Perang Dagang China juga Negeri Paman Sam Makin Panas, Beijing Terapkan Tarif 15%

JAKARTA – China balik menampar Amerika Serikat (AS) dengan tarif 15% terhadap berbagai komoditas makanan yang digunakan diimpor dari Amerika Serikat kemudian memperluas pengawasan terkait kerja mirip perusahaan dengan perusahaan Amerika. Respons melawan kenaikan tarif terbaru Washington terhadap barang-barang China, menciptakan tensi konflik dagang kedua negara semakin panas.
Kementerian Perdagangan China mengumumkan pungutan 15% untuk impor ayam, gandum, jagung lalu kapas dari AS, juga tarif 10% pada sorgum Amerika, kedelai, babi, daging sapi, komoditas akuatik, buah-buahan, sayuran, hingga komoditas susu. Langkah-langkah yang dimaksud mulai berlaku pada 10 Maret 2025, menurut pernyataan resmi kementerian.
Pada pada waktu yang sama, pemerintah China menempatkan 15 perusahaan Negeri Paman Sam dalam bawah pembatasan ekspor dan juga investasi, dengan alasan permasalahan keamanan nasional. Beijing juga mulai melakukan tindakan hukum terhadap Washington, dengan melaporkannya terhadap Organisasi Perdagangan Bumi (WTO).
China mengklaim bahwa tarif sepihak Amerika Serikat melanggar aturan organisasi juga merusak fondasi kerja sebanding perekonomian lalu perdagangan. Seperti diketahui pada awal pekan ini, Negeri Paman Sam menggandakan tarif pada semua impor China dari 10% menjadi 20%.
Presiden Donald Trump beralasan, tarif yang disebutkan sebagai respon Amerika Serikat melawan dugaan peran negara itu di produksi fentanyl, opioid sintetis yang tersebut mematikan. Tak semata-mata China, pada upaya menekan peredaran obat terlarang, Trump juga menjatuhkan tarif tinggi terhadap Meksiko.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian mengumumkan permasalahan fentanil menurutnya hanya saja sebagai “alasan” untuk meningkatkan tarif Negeri Paman Sam pada impor China.
“Seharusnya Amerika Serikat sendiri yang tersebut bertanggung jawab menghadapi krisis fentanil, tidak orang lain. Dalam semangat kemanusiaan lalu niat baik terhadap rakyat Amerika, kami sudah pernah mengambil langkah-langkah kuat untuk membantu Negeri Paman Sam di menangani kesulitan ini… Alih-alih mengakui upaya kami, Amerika Serikat sudah pernah berupaya mencoreng serta mengalihkan kesalahan untuk China, juga terus menekan serta memeras China dengan kenaikan tarif,” kata juru bicara itu.
Kebijakan Washington lalu respons Beijing dipandang oleh para ekonom sebagai fase baru di konflik dagang skala besar antara dua dunia usaha terbesar dunia, yang tersebut diprakarsai oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump seperti selama masa jabatan presiden pertamanya.
Bea kumulatif 20% yang diperkenalkan tahun ini datang pada melawan tarif hingga 25% yang dikenakan oleh pemerintahannya pada impor Amerika Serikat dari China senilai sekitar USD370 miliar pada periode 2018 lalu 2019.






