Lengserkan Saul Canelo Alvarez dari Daftar Petinju Pound-for-pound!

Jika laporan terbaru menunjukkan adanya kecenderungan terhadap lawan yang tersebut akan dihadapi oleh Saul Canelo Alvarez pada waktu beberapa hari ke depan, ia akan bertarung melawan Bruno Surace atau Jermall Charlo dalam bulan Mei. Setelah lima kemenangan beruntun melalui tindakan juri melawan para petinju yang mana tidak ada diunggulkan, Saul Canelo Alvarez masih menjadi bintang terbesar di dunia tinju – bukanlah hal yang digunakan mudah mengingat kekecewaan yang mana mendalam berhadapan dengan pilihan-pilihan lawannya baru-baru ini.
Sejak membersihkan divisi kelas menengah super pada tahun 2021, Canelo tak menunjukkan minat khusus untuk mempertahankan sabuknya melawan penantang yang dimaksud paling layak. Belum pernah sekalipun ia melawan lawan yang dimaksud bahkan miliki argumen untuk menjadi penantang No. 1. Namun belaka IBF yang sudah mencopot sabuknya, juga Canelo masih miliki tiga sabuk yang digunakan tersisa – kemudian peringkat juara dunia.
Surace lalu Charlo bukan lebih tinggi menarik daripada lawan Canelo lainnya di area masa lalu. Mereka bahkan kemungkinan besar lebih besar tiada menarik: Ketidakaktifan melekat pada Charlo yang berbakat seperti pasir hisap, kemudian Surace tidaklah dapat dengan yakin diklasifikasikan sebagai petarung yang digunakan mampu melakukan lebih besar dari sekali mendaratkan bom pada lawan berkualitas yang dimaksud mengabaikan pertahanan di area luar kendali.
Para pengamat tidaklah dapat memberikan tanggapan yang mana meyakinkan berhadapan dengan pertarungan Canelo akhir-akhir ini. Mereka menyayangkan tiada adanya pertarungan melawan David Benavidez, namun membenarkan kebijakan Canelo Alvarez lalu terus menekankan warisan yang dimaksud mengesankan.
Ini adalah pendekatan yang tersebut berbeda: Lengserkan Saul Canelo Alvarez dari daftar pound-for-pound. Jika beliau masih menjadi salah satu dari 10 petinju terbaik dalam dunia, tiga tahun bertarung pada pertandingan sudah ada cukup untuk mengaburkan batas kemampuannya pada waktu ini. Terakhir kali Canelo Alvarez bertarung melawan lawan yang digunakan memiliki prospek untuk menang – Dmitry Bivol pada tahun 2022 – ia kalah. Hal yang dimaksud memproduksi Canelo kehilangan posisinya di dalam puncak daftar pound-for-pound.
Menolak untuk melawan penantang teratasnya juga juga menolak untuk melegakan sabuknya seharusnya membuatnya jatuh dari daftar tersebut. Seorang petinju ditentukan oleh karier merek – namun, yang mana lebih banyak menonjol, oleh beberapa pertarungan terakhir mereka.
Canelo adalah petarung yang memilih untuk menghabiskan tahun 2024 dengan bertarung melawan Jaime Munguia juga Edgar Berlanga, meskipun tidak ada ada permintaan untuk pertarungan tersebut, lalu kemudian gagal mencetak KO. Alasan untuk mempertahankannya di daftar pound-for-pound dapat ditemukan hampir secara eksklusif pada pencapaiannya dari tahun 2014 hingga 2021, sebuah periode yang dimaksud semakin lama semakin surut.
Beberapa orang kemungkinan besar berpendapat bahwa Gervonta “Tank” Davis layak mendapatkan perlakuan yang dimaksud sama, namun setidaknya beliau secara teratur mencetak KO spektakuler; Canelo bukan dapat menghentikan lawannya sejak tahun 2021. Dan meskipun Canelo bertarung pada menghadapi divisi di dalam mana ia memulai kariernya, kelas menengah super sudah terbukti menjadi divisi terbaiknya. Dia mempunyai rekor 10-0 di tempat kelas 168.
Canelo kehabisan alasan, dan juga kita tidaklah perlu menghasilkan alasan untuknya hanya sekali oleh sebab itu ia telah dilakukan lama menghasilkan kembali delapan hitungan per pertarungan kemudian kemungkinan besar akan segera menciptakan sembilan. Kemampuannya untuk memunculkan uang memang benar luar biasa, namun hal yang disebutkan bukanlah alasan yang mana tepat untuk memilih lawan. Dia sangat kaya raya. Pada titik tertentu, berteriak-teriak untuk mendapatkan lebih tinggi sejumlah uang harus diklasifikasikan tidak sebagai manuver keuangan yang digunakan cerdas, tetapi sebagai keserakahan.
Apa gunanya individu petarung yang dimaksud sudah ada menjadi salah satu atlet terkaya dalam dunia yang tersebut terus mengeruk lebih lanjut berbagai uang dari pertarungannya? Kecuali ia memilih lawan yang dimaksud menarik, itu belaka berarti lebih banyak sedikit uang yang mana bisa jadi didapatkan oleh para penggemar.
Menjatuhkan Canelo Alvarez dari daftar pound-for-pound kemungkinan besar tidak ada akan membuatnya menjatuhkan sabuknya atau akhirnya bertarung melawan David Benavidez, namun hal ini akan menjadi sebuah pernyataan bahwa para petinju elite harus membayar nilai tukar untuk bertahan di dalam tempat yang biasa-biasa saja.
Penentuan pertandingan yang mana konservatif dari Floyd Mayweather Jr juga keputusasaannya untuk melindungi rekor tak terkalahkannya di dalam akhir kariernya sudah memberikan pengaruh negatif pada generasi petinju untuk mencoba meraih kekuatan bintang tanpa menemui lawan yang digunakan sepadan dalam melawan ring. Contoh Canelo mungkin saja akan menimbulkan generasi bintang berikutnya untuk mengambil tantangan penting terakhir merek pada usia 32 tahun.
Jika kemudian ketika Canelo memberikan penampilan yang dimaksud mengesankan melawan petinju yang bukan diunggulkan, ia dapat kembali mendapatkan tempatnya di dalam daftar pound-for-pound. Hingga ketika itu, seseorang bintang yang digunakan memiliki kemampuan spektakuler namun berniat untuk bertarung di tempat bawah level kemampuannya, pada peringkat elite, cuma membuang-buang tempat.






