Danantara Bisa Dorong Hilirisasi Bagian Perkebunan

JAKARTA – Kehadiran Danantara dipercaya mampu mempercepat proses realisasi rencana bidang usaha perkebunan negara yang membutuhkan dana besar. Dengan mengoptimalkan nilai aset, optimalisasi proses pengolahan lebih lanjut yang mana dicanangkan pemerintah dapat tercapai.
Co-Founder PasaRDana, menilai PTPN Group Hans Kwee, dapat mengandalkan potensi yang mana diberikan Danantara, khususnya di tempat aspek ekspansi kegiatan bisnis kemudian mengupayakan kolaborasi BUMN lebih besar kuat lalu mendapatkan partner strategis secara global. Sebagai negara agraris, dan juga dianugerahkan tanah yang mana subur, sektor perkebunan adalah salah satu sektor andalan untuk mencapai Indonesia Emas 2045.
“Sektor perkebunan dapat menerima banyak tenaga kerja, memacu keadilan pendapatan juga menaikan kesejahteraan rakyat Indonesia. Hilirisasi perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah ekspor adalah langkah yang tersebut sangat tepat,” kata Hans Kwee, di area Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Apalagi, jelasnya, sejak tahun 2021 kemudian 2023, PTPN Group telah terjadi melakukan efisiensi melalui metamorfosis perusahaan. Antara lain konsolidasi anak usaha dari 14 perusahaan menjadi tiga entitas bisnis, yaitu PTPN I (SupportingCo), PTPN IV (Palm Co) juga PT Sinergi Gula Nusantara (SugarCo).
“Langkah PTPN sejak beberapa tahun lalu berpeluang memacu perusahaan lebih besar profesional dan juga profit meningkat,” jelas Hans.
PTPN Group juga melakukan perbaikan keuangan melalui restrukturisasi utang, efisiensi operasional juga biaya manajemen, peningkatan akuntabilitas juga fungsi pengendalian, juga metamorfosis EBITDA. Hasilnya, perusahaan dapat mengganti predikat sebelumnya dari merugi menjadi pencetak laba. Sejak tahun 2021 hingga kuartal III-2024, laba bersih konsolidasi sudah pernah mencapai Rp13,6 triliun.
“PTPN Group dapat bersinergi dengan Danantara dikarenakan upaya melakukan efisiensi aset telah berupaya diadakan beberapa tahun terakhir. Sekarang, tinggal bersinergi merealisasikan rencana kegiatan bisnis yang tersebut lebih lanjut besar,” katanya.
Data Kementerian BUMN tahun 2023, menunjukkan PTPN Group berada diurutan ke-11 sebagai pemilik aset terbesar. Total nilai aset holding perkebunan ini hampir mencapai Rp144 triliun. Di urutan 10 besar ditempati Bank Mandiri, BRI, PLN, Pertamina, BNI, BTN, Taspen, Telkom Indonesia, MIND ID, lalu Hutama Karya.
Sementara itu, luas lahan Holding BUMN Perkebunan mencapai 1,18 jt hektare. Sedangkan, salah satu sub holding, yaitu Palm Co memiliki lahan sawit terbesar dalam dunia, melebih luas lahan sawit Tanah Melayu Sime Darby juga Golden Agri milik Sinar Mas. Hal ini tentu luar biasa lantaran proses pengolahan lebih lanjut komoditas sawit akan sangat banyak memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.
Lebih jauh, Hans Kwee mengemukakan PTPN memunculkan sejumlah produk-produk perkebunan. Jika dijalankan proses pengembangan lebih lanjut akan memberikan nilai tambah lebih lanjut besar terhadap perekonomian nasional, seperti kelapa sawit, karet, teh, tebu, kemudian kopi. “Perlu menyebabkan pabrik yang mana canggih dengan pembangunan ekonomi tinggi. Danantara mampu menjadi salah satu solusi untuk ini,” tandasnya.






