Surat Ali Imran Full: Arab, Latin kemudian Terjemahannya

Jakarta – Surat Ali Imran merupakan surat ketiga pada Al-Qur’an. Surat ini diturunkan pasca Surat Al-Anfal.
Surat Ali Imran diwahyukan pada tahun 9 Hijriyah di Daerah Perkotaan Madinah, sehingga di antaranya di golongan Surat Madaniyyah. Nama “Ali Imran” berarti “Keluarga Imran,” juga surat ini dinamakan demikian akibat memuat kisah tentang Keluarga Imran, yaitu ayah dari Maryam.
Surat Ali Imran terdiri dari 200 ayat dan juga dikenal dengan sebutan Az-Zahraawani (dua yang tersebut cemerlang) dengan dengan Surat Al-Baqarah. Keduanya disebut demikian akibat mengungkap hal-hal yang dimaksud disembunyikan oleh ahli kitab, seperti kelahiran Nabi Isa Amerika Serikat lalu kedatangan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, dan juga lainnya.
Mengutip dari quran.nu.or.id, berikut Surat Ali ‘Imran full latin, arti lalu terjemahannya
الۤمّۤ ١
alif lâm mîm
Alif Lām Mīm.
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ ٢
allâhu lâ ilâha illâ huwal-ḫayyul-qayyûm
Allah, tidaklah ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus.
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۙ ٣
nazzala ‘alaikal-kitâba bil-ḫaqqi mushaddiqal limâ baina yadaihi wa anzalat-taurâta wal-injîl
Dia menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan hak, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, juga telah terjadi menurunkan Taurat juga Injil
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ەۗ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍۗ ٤
ming qablu hudal lin-nâsi wa anzalal-furqân, innalladzîna kafarû bi’âyâtillâhi lahum ‘adzâbun syadîd, wallâhu ‘azîzun dzuntiqâm
Sebelum (turunnya Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia, lalu menurunkan Al-Furqān (pembeda yang hak lalu yang dimaksud batil). Sesungguhnya orang-orang yang tersebut kufur terhadap ayat-ayat Allah, bagi dia azab yang tersebut sangat keras. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ ٥
innallâha lâ yakhfâ ‘alaihi syai’un fil-ardli wa lâ fis-samâ’
Sesungguhnya bagi Allah tak ada sesuatu pun yang digunakan tersembunyi ke bumi kemudian tidaklah pula di dalam langit.
هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ٦
huwalladzî yushawwirukum fil-ar-ḫâmi kaifa yasyâ’, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm
Dialah (Allah) yang tersebut membentuk kamu pada rahim sebagaimana yang tersebut Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُۘ وَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَاۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٧
huwalladzî anzala ‘alaikal-kitâba min-hu âyâtum muḫkamâtun hunna ummul-kitâbi wa ukharu mutasyâbihât, fa ammalladzîna fî qulûbihim zaighun fayattabi’ûna mâ tasyâbaha min-hubtighâ’al-fitnati wabtighâ’a ta’wîlih, wa mâ ya’lamu ta’wîlahû illallâh, war-râsikhûna fil-‘ilmi yaqûlûna âmannâ bihî kullum min ‘indi rabbinâ, wa mâ yadzdzakkaru illâ ulul-albâb
Dialah (Allah) yang digunakan menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang mana muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) juga yang dimaksud lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dimaksud pada hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, merek mengikuti ayat-ayat yang dimaksud mutasyabihat untuk memunculkan fitnah (kekacauan dan juga keraguan) kemudian untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tak ada yang tersebut mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang mana ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang tersebut dapat mengambil pelajaran, kecuali ululalbab.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ٨
rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba’da idz hadaitanâ wa hab lanâ mil ladungka raḫmah, innaka antal-wahhâb(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelahnya Engkau berikan petunjuk untuk kami dan juga anugerahkanlah untuk kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
رَبَّنَآ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَادَࣖ ٩
rabbanâ innaka jâmi’un-nâsi liyaumil lâ raiba fîh, innallâha lâ yukhliful-mî’âdWahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang digunakan menghimpun manusia pada hari yang tiada ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah tiada menyalahi janji.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِۗ ١٠
innalladzîna kafarû lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai’â, wa ulâ’ika hum waqûdun-nârSesungguhnya orang-orang yang kufur, tak akan berguna bagi dia sedikit pun harta benda lalu anak-anak merekan (untuk menyelamatkan diri) dari (azab) Allah. Mereka itulah materi bakar api neraka.
كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ١١
kada’bi âli fir’auna walladzîna ming qablihim, kadzdzabû bi’âyâtinâ, fa akhadzahumullâhu bidzunûbihim, wallâhu syadîdul-‘iqâb
(Keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir’aun juga orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami. Oleh sebab itu, Allah menyiksa mereka itu sebab dosa-dosanya. Allah sangat keras hukuman-Nya.
قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ١٢
qul lilladzîna kafarû satughlabûna wa tuḫsyarûna ilâ jahannam, wa bi’sal-mihâd
Katakanlah (Nabi Muhammad) untuk orang-orang yang kufur, “Kamu (pasti) akan dikalahkan juga digiring ke pada (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.”
قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَاۗ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِۗ وَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ ١٣
qad kâna lakum âyatun fî fi’atainiltaqatâ, fi’atun tuqâtilu fî sabîlillâhi wa ukhrâ kâfiratuy yaraunahum mitslaihim ra’yal-‘aîn, wallâhu yu’ayyidu binashrihî may yasyâ’, inna fî dzâlika la’ibratal li’ulil-abshâr
Sungguh, telah dilakukan ada tanda (bukti) bagimu pada dua golongan yang dimaksud bertemu (dalam pertempuran. Satu golongan berperang di dalam jalan Allah kemudian (golongan) yang lain kafir yang tersebut mengawasi dengan mata kepala bahwa merek (golongan muslim) dua kali lipat jumlahnya. Allah menguatkan siapa yang dimaksud Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang mana demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang tersebut mempunyai penglihatan (mata hati).
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ ١٤
zuyyina lin-nâsi ḫubbusy-syahawâti minan-nisâ’i wal-banîna wal-qanathîril-muqantharati minadz-dzahabi wal-fidldlati wal-khailil-musawwamati wal-an’âmi wal-ḫarts, dzâlika matâ’ul-ḫayâtid-dun-yâ, wallâhu ‘indahû ḫusnul-ma’âb
Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang merupakan perempuan, anak-anak, harta benda yang digunakan bertimbun tak terhingga berbentuk emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, lalu sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dalam planet dan juga ke sisi Allahlah tempat kembali yang mana baik.
۞ قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰلِكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ ١٥
qul a unabbi’ukum bikhairim min dzâlikum, lilladzînattaqau ‘inda rabbihim jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ wa azwâjum muthahharatuw wa ridlwânum minallâh, wallâhu bashîrum bil-‘ibâd
Katakanlah, “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang mana lebih tinggi baik daripada yang mana demikian itu?” Untuk orang-orang yang tersebut bertakwa, ke sisi Tuhan merekan ada surga-surga yang dimaksud mengalir ke bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal pada dalamnya serta (untuk mereka) pasangan yang disucikan dan juga rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
اَلَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اِنَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِۚ ١٦
alladzîna yaqûlûna rabbanâ innanâ âmannâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa qinâ ‘adzâban-nâr
(Yaitu) orang-orang yang digunakan berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami benar-benar telah dilakukan beriman. Maka, ampunilah dosa-dosa kami serta selamatkanlah kami dari azab neraka.”
اَلصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ ١٧
ash-shâbirîna wash-shâdiqîna wal-qânitîna wal-munfiqîna wal-mustaghfirîna bil-as-ḫâr
(Juga) orang-orang yang sabar, benar, taat, dan juga berinfak, dan juga memohon ampunan pada akhir malam.
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًا ۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ١٨
syahidallâhu annahû lâ ilâha illâ huwa wal-malâ’ikatu wa ulul-‘ilmi qâ’imam bil-qisth, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm
Allah menyatakan bahwa tidak ada ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan juga warga berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩innad-dîna ‘indallâhil-islâm, wa makhtalafalladzîna ûtul-kitâba illâ mim ba’di mâ jâ’ahumul-‘ilmu baghyam bainahum, wa may yakfur bi’âyâtillâhi fa innallâha sarî’ul-ḫisâb
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang digunakan sudah pernah diberi kitab tak berselisih, kecuali pasca datang pengetahuan untuk merek lantaran kedengkian di antara mereka. Siapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).
فَاِنْ حَاۤجُّوْكَ فَقُلْ اَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِۗ وَقُلْ لِّلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْاُمِّيّٖنَ ءَاَسْلَمْتُمْۗ فَاِنْ اَسْلَمُوْا فَقَدِ اهْتَدَوْاۚ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِࣖ ٢٠
fa in ḫâjjûka fa qul aslamtu waj-hiya lillâhi wa manittaba’an, wa qul lilladzîna ûtul-kitâba wal-ummiyyîna a aslamtum, fa in aslamû fa qadihtadau, wa in tawallau fa innamâ ‘alaikal-balâgh, wallâhu bashîrum bil-‘ibâd
Jika dia mendebat engkau (Nabi Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri untuk Allah dan juga (demikian pula) orang-orang yang mana mengikutiku.” Katakanlah terhadap orang-orang (Yahudi lalu Nasrani) yang tersebut telah terjadi diberi Kitab (Taurat serta Injil) serta untuk orang-orang yang dimaksud umi, “Sudahkah kamu masuk Islam?” Jika dia telah dilakukan masuk Islam, sungguh mereka sudah pernah mendapat petunjuk. Akan tetapi, jikalau merekan berpaling, sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِحَقٍّۖ وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ ٢١
innalladzîna yakfurûna bi’âyâtillâhi wa yaqtulûnan-nabiyyîna bighairi ḫaqqiw wa yaqtulûnalladzîna ya’murûna bil-qisthi minan-nâsi fa basysyir-hum bi’adzâbin alîm
Sesungguhnya orang-orang yang dimaksud kufur terhadap ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang mana benar), serta membunuh manusia yang tersebut memerintahkan keadilan, sampaikanlah untuk dia kabar ‘gembira’ tentang azab yang mana pedih.
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ٢٢
ulâ’ikalladzîna ḫabithat a’mâluhum fid-dun-yâ wal-âkhirati wa mâ lahum min nâshirîn
Mereka itulah orang-orang yang amalnya sia-sia ke globus dan juga pada akhirat lalu bukan ada bagi mereka itu satu penolong pun.
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يُدْعَوْنَ اِلٰى كِتٰبِ اللّٰهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ وَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ ٢٣
a lam tara ilalladzîna ûtû nashîbam minal-kitâbi yud’auna ilâ kitâbillâhi liyaḫkuma bainahum tsumma yatawallâ farîqum min-hum wa hum mu’ridlûn
Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memerhatikan orang-orang (Yahudi) yang mana sudah pernah diberi bagian (pengetahuan) kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada kitab Allah untuk memutuskan (perkara) dalam antara mereka, kemudian segolongan dari mereka itu berpaling lalu menolak (kebenaran).
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ اِلَّآ اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۖ وَّغَرَّهُمْ فِيْ دِيْنِهِمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ٢٤
dzâlika bi’annahum qâlû lan tamassanan-nâru illâ ayyâmam ma’dûdâtiw wa gharrahum fî dînihim mâ kânû yaftarûn
Demikian itu disebabkan bahwa dia berkata, “Api neraka tidaklah akan menyentuh kami, kecuali beberapa hitungan hari saja.” Mereka teperdaya pada agamanya oleh apa yang digunakan setiap saat mereka itu ada-adakan.
فَكَيْفَ اِذَا جَمَعْنٰهُمْ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ٢٥
fa kaifa idzâ jama’nâhum liyaumil lâ raiba fîh, wa wuffiyat kullu nafsim mâ kasabat wa hum lâ yudhlamûnBagaimanakah (nanti) apabila merek Kami kumpulkan pada hari (Kiamat) yang tak ada keraguan padanya juga setiap jiwa diberi balasan yang dimaksud sempurna sesuai dengan apa yang tersebut telah terjadi dikerjakannya tanpa dizalimi?
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ٢٦
qulillâhumma mâlikal-mulki tu’til-mulka man tasyâ’u wa tanzi’ul-mulka mim man tasyâ’u wa tu’izzu man tasyâ’u wa tudzillu man tasyâ’, biyadikal-khaîr, innaka ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan untuk siapa pun yang dimaksud Engkau kehendaki serta Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang dimaksud Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang mana Engkau kehendaki serta Engkau hinakan siapa yang digunakan Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa melawan segala sesuatu.
تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ٢٧
tûlijul-laila fin-nahâri wa tûlijun-nahâra fil-laili wa tukhrijul-ḫayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-ḫayyi wa tarzuqu man tasyâ’u bighairi ḫisâb
Engkau masukkan waktu malam ke di siang serta Engkau masukkan siang ke di malam. Engkau keluarkan yang dimaksud hidup dari yang dimaksud berakhir kemudian Engkau keluarkan yang digunakan berakhir dari yang hidup. Engkau berikan rezeki untuk siapa yang dimaksud Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّآ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰىةًۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗۗ وَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ ٢٨l
â yattakhidzil-mu’minûnal-kâfirîna auliyâ’a min dûnil-mu’minîn, wa may yaf’al dzâlika fa laisa minallâhi fî syai’in illâ an tattaqû min-hum tuqâh, wa yuḫadzdzirukumullâhu nafsah, wa ilallâhil-mashîr
Janganlah orang-orang mukmin menjadikan warga kafir sebagai para wali dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang melakukan itu, hal itu identik sekali tidak dari (ajaran) Allah, kecuali untuk menjaga diri dari sesuatu yang digunakan kamu takuti dari mereka. Allah mengingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya untuk Allah tempat kembali.
قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٩
qul in tukhfû mâ fî shudûrikum au tubdûhu ya’lam-hullâh, wa ya’lamu mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wallâhu ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang dimaksud ada pada hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di dalam langit lalu apa yang dimaksud ada di bumi. Allah Mahakuasa melawan segala sesuatu.
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًاۛ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًا ۢ بَعِيْدًاۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗۗ وَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِࣖ ٣٠
yauma tajidu kullu nafsim mâ ‘amilat min khairim muḫdlaraw wa mâ ‘amilat min sû’, tawaddu lau anna bainahâ wa bainahû amadam ba’îdâ, wa yuḫadzdzirukumullâhu nafsah, wallâhu ra’ûfum bil-‘ibâd
(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) melawan kebajikan yang dimaksud sudah pernah dikerjakannya dihadirkan, (begitu juga balasan) melawan kejahatan yang telah dilakukan ia kerjakan. Dia berharap seandainya ada jarak yang tersebut berjauhan antara beliau serta hari itu. Allah memberi peringatan kamu akan (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١
qul ing kuntum tuḫibbûnallâha fattabi’ûnî yuḫbibkumullâhu wa yaghfir lakum dzunûbakum, wallâhu ghafûrur raḫîm
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu serta mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ ٣٢
qul athî’ullâha war-rasûl, fa in tawallau fa innallâha lâ yuḫibbul-kâfirîn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Taatilah Allah dan juga Rasul(-Nya). Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidaklah menyukai orang-orang kafir.”
۞ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ ٣٣
innallâhashthafâ âdama wa nûḫaw wa âla ibrâhîma wa âla ‘imrâna ‘alal-‘âlamîn
Sesungguhnya Allah sudah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan juga keluarga Imran berhadapan dengan seluruh alam (manusia pada zamannya masing-masing).
ذُرِّيَّةً ۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۚ ٣٤
dzurriyyatam ba’dluhâ mim ba’dl, wallâhu samî’un ‘alîm
(Mereka adalah) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang digunakan lain. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٣٥
idz qâlatimra’atu ‘imrâna rabbi innî nadzartu laka mâ fî bathnî muḫarraran fa taqabbal minnî, innaka antas-samî’ul-‘alîm
(Ingatlah) saat istri Imran berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang tersebut ada di dalam pada kandunganku murni untuk-Mu (berkhidmat ke Baitulmaqdis). Maka, terimalah (nazar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰىۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ ٣٦fa lammâ wadla’at-hâ qâlat rabbi innî wadla’tuhâ untsâ, wallâhu a’lamu bimâ wadla’at, wa laisadz-dzakaru kal-untsâ, wa innî sammaituhâ maryama wa innî u’îdzuhâ bika wa dzurriyyatahâ minasy-syaithânir-rajîm
Ketika melahirkannya, ia berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah lama melahirkan anak perempuan.” Padahal, Allah lebih besar tahu apa yang tersebut beliau (istri Imran) lahirkan. “Laki-laki tiada sebanding dengan perempuan. Aku memberinya nama Maryam juga memohon perlindungan-Mu untuknya serta anak cucunya dari setan yang terkutuk.”
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًاۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَاۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ٣٧
fa taqabbalahâ rabbuhâ biqabûlin ḫasaniw wa ambatahâ nabâtan ḫasanaw wa kaffalahâ zakariyyâ, kullamâ dakhala ‘alaihâ zakariyyal-miḫrâba wajada ‘indahâ rizqâ, qâla yâ maryamu annâ laki hâdzâ, qâlat huwa min ‘indillâh, innallâha yarzuqu may yasyâ’u bighairi ḫisâb
Dia (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang mana baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan juga mengutarakan pemeliharaannya untuk Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemui dalam mihrabnya, ia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki untuk siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ ٣٨
hunâlika da’â zakariyyâ rabbah, qâla rabbi hab lî mil ladungka dzurriyyatan thayyibah, innaka samî’ud-du’â’
Di sanalah Zakaria berdoa terhadap Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang dimaksud baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”
فَنَادَتْهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُوَ قَاۤىِٕمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَابِۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًا ۢ بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ٣٩
fa nâdat-hul-malâ’ikatu wa huwa qâ’imuy yushallî fil-miḫrâbi annallâha yubasysyiruka biyaḫyâ mushaddiqam bikalimatim minallâhi wa sayyidaw wa ḫashûraw wa nabiyyam minash-shâliḫîn
Lalu, Malaikat (Jibril) memanggilnya pada saat ia berdiri melaksanakan salat pada mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang mana membenarkan kalimat dari Allah, (menjadi) anutan, menahan diri (dari hawa nafsu), lalu manusia nabi di dalam antara orang-orang saleh.”
قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَاَتِيْ عَاقِرٌۗ قَالَ كَذٰلِكَ اللّٰهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ ٤٠
qâla rabbi annâ yakûnu lî ghulâmuw wa qad balaghaniyal-kibaru wamra’atî ‘âqir, qâla kadzâlikallâhu yaf’alu mâ yasyâ’
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku mampu mendapat anak, sedangkan aku sudah ada sangat tua serta istriku pun mandul?” (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang mana Dia kehendaki.”
قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةًۗ قَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَةَ اَيَّامٍ اِلَّا رَمْزًاۗ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِࣖ ٤١
qâla rabbij’al lî âyah, qâla âyatuka allâ tukalliman-nâsa tsalâtsata ayyâmin illâ ramzâ, wadzkur rabbaka katsîraw wa sabbiḫ bil-‘asyiyyi wal-ibkâr
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda (kehamilan istriku).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu adalah engkau tak (dapat) berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan juga bertasbihlah pada waktu petang serta pagi hari.”
وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ ٤٢
wa idz qâlatil-malâ’ikatu yâ maryamu innallâhashthafâki wa thahharaki washthafâki ‘alâ nisâ’il-‘âlamîn
(Ingatlah) sewaktu Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah lama memilihmu, menyucikanmu, lalu melebihkanmu pada melawan seluruh perempuan pada semesta alam (pada masa itu).
يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ٤٣
yâ maryamuqnutî lirabbiki wasjudî warka’î ma’ar-râki’în
Wahai Maryam, taatlah untuk Tuhanmu, sujudlah, serta rukuklah dengan orang-orang yang tersebut rukuk.”
ذٰلِكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ اِلَيْكَۗ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يُلْقُوْنَ اَقْلَامَهُمْ اَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يَخْتَصِمُوْنَ ٤٤
dzâlika min ambâ’il-ghaibi nûḫîhi ilaîk, wa mâ kunta ladaihim idz yulqûna aqlâmahum ayyuhum yakfulu maryama wa mâ kunta ladaihim idz yakhtashimûn
Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang mana Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad). Padahal, engkau tidak ada bersatu mereka itu saat dia melemparkan pena merekan (untuk mengundi) siapa pada antara mereka itu yang dimaksud akan memelihara Maryam dan juga engkau tiada sama-sama mereka itu ketika merek bersengketa.
اِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ ٤٥
idz qâlatil-malâ’ikatu yâ maryamu innallâha yubasysyiruki bikalimatim min-husmuhul-masîḫu ‘îsabnu maryama wajîhan fid-dun-yâ wal-âkhirati wa minal-muqarrabîn
(Ingatlah) di mana Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (kelahiran anak yang digunakan diciptakan) dengan kalimat dari-Nya, namanya Isa Almasih putra Maryam, manusia terkemuka dalam bumi dan juga pada akhirat dan juga salah satunya orang-orang yang mana didekatkan (kepada Allah).
وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَّمِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٤٦
wa yukallimun-nâsa fil-mahdi wa kahlaw wa minash-shâliḫîn
Dia berbicara dengan manusia (sewaktu) pada buaian serta di mana sudah ada dewasa juga termasuk orang-orang saleh.”
قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٤٧
qâlat rabbi annâ yakûnu lî waladuw wa lam yamsasnî basyar, qâla kadzâlikillâhu yakhluqu mâ yasyâ’, idzâ qadlâ amran fa innamâ yaqûlu lahû kun fa yakûn
Dia (Maryam) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin saja aku akan mempunyai anak, padahal bukan ada pribadi laki-laki pun yang mana menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang digunakan Dia kehendaki.” Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia belaka berkata padanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.
وَيُعَلِّمُهُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ ٤٨
wa yu’allimuhul-kitâba wal-ḫikmata wat-taurâta wal-injîl
Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat, serta Injil.
وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْۙ اَنِّيْٓ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًا ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِۚ وَاُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِۚ وَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَۙ فِيْ بُيُوْتِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ ٤٩
wa rasûlan ilâ banî isrâ’îla annî qad ji’tukum bi’âyatim mir rabbikum annî akhluqu lakum minath-thîni kahai’atith-thairi fa anfukhu fîhi fa yakûnu thairam bi’idznillâh, wa ubri’ul-akmaha wal-abrasha wa uḫyil-mautâ bi’idznillâh, wa unabbi’ukum bimâ ta’kulûna wa mâ taddakhirûna fî buyûtikum, inna fî dzâlika la’âyatal lakum ing kuntum mu’minîn
(Allah akan menjadikannya) sebagai orang rasul terhadap Bani Israil. (Isa berkata,) “Sesungguhnya aku telah dilakukan datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang mana berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga berubah menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan khalayak yang buta sejak dari lahir dan juga pendatang yang dimaksud berpenyakit buras (belang) dan juga menghidupkan orang-orang terhenti dengan izin Allah. Aku beri tahukan kepadamu apa yang dimaksud kamu makan dan juga apa yang mana kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang dimaksud demikian itu benar-benar terdapat tanda (kerasulanku) bagimu jikalau kamu orang-orang mukmin.
وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَلِاُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ٥٠
wa mushaddiqal limâ baina yadayya minat-taurâti wa li’uḫilla lakum ba’dlalladzî ḫurrima ‘alaikum wa ji’tukum bi’âyatim mir rabbikum, fattaqullâha wa athî’ûn
(Aku diutus untuk) membenarkan Taurat yang (diturunkan) sebelumku lalu untuk menghalalkan bagi kamu sebagian perkara yang digunakan telah terjadi diharamkan untukmu. Aku datang kepadamu dengan menghadirkan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Oleh dikarenakan itu, bertakwalah terhadap Allah dan juga taatlah kepadaku.
اِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ ٥١
innallâha rabbî wa rabbukum fa’budûh, hâdzâ shirâthum mustaqîm
Sesungguhnya Allah itu Tuhanku juga Tuhanmu. Oleh lantaran itu, sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”
۞ فَلَمَّآ اَحَسَّ عِيْسٰى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ اَنْصَارِيْٓ اِلَى اللّٰهِۗ قَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ اَنْصَارُ اللّٰهِۚ اٰمَنَّا بِاللّٰهِۚ وَاشْهَدْ بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ٥٢
fa lammâ aḫassa ‘îsâ min-humul-kufra qâla man anshârî ilallâh, qâlal-ḫawâriyyûna naḫnu anshârullâh, âmannâ billâh, wasy-had bi’annâ muslimûn
Ketika Isa merasakan kekufuran dia (Bani Israil), beliau berkata, “Siapakah yang digunakan akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawari (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman terhadap Allah kemudian saksikanlah sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.
رَبَّنَآ اٰمَنَّا بِمَآ اَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ ٥٣
rabbanâ âmannâ bimâ anzalta wattaba’nar-rasûla faktubnâ ma’asy-syâhidîn
Wahai Tuhan kami, kami telah dilakukan beriman pada apa yang Engkau turunkan juga kami sudah mengikuti Rasul. Oleh akibat itu, tetapkanlah kami sama-sama orang-orang yang tersebut memberikan kesaksian.”
وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَࣖ ٥٤
wa makarû wa makarallâh, wallâhu khairul-mâkirîn
Mereka (orang-orang kafir) menyebabkan tipu daya lalu Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ٥٥
idz qâlallâhu yâ ‘îsâ innî mutawaffîka wa râfi’uka ilayya wa muthahhiruka minalladzîna kafarû wa jâ’ilulladzînattaba’ûka fauqalladzîna kafarû ilâ yaumil-qiyâmah, tsumma ilayya marji’ukum fa aḫkumu bainakum fîmâ kuntum fîhi takhtalifûn
(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu, mengangkatmu kepada-Ku, menyucikanmu dari orang-orang yang mana kufur, kemudian menjadikan orang-orang yang digunakan mengikutimu lebih besar unggul daripada orang-orang yang dimaksud kufur hingga hari Kiamat. Kemudian, kepada-Kulah kamu kembali, berikutnya Aku beri langkah tentang apa yang tersebut setiap saat kamu perselisihkan.
فَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَاُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ٥٦
fa ammalladzîna kafarû fa u’adzdzibuhum ‘adzâban syadîdan fid-dun-yâ wal-âkhirati wa mâ lahum min nâshirîn
Adapun orang-orang yang kufur akan Aku azab mereka itu dengan azab yang dimaksud sangat keras pada bumi juga di dalam akhirat kemudian sekali-kali tak ada penolong bagi mereka.”
وَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُوَفِّيْهِمْ اُجُوْرَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ٥٧
wa ammalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti fa yuwaffîhim ujûrahum, wallâhu lâ yuḫibbudh-dhâlimîn
Sementara itu, orang-orang yang mana beriman juga beramal saleh akan Dia berikan pahala dia dengan sempurna. Allah bukan menyukai orang-orang zalim.
ذٰلِكَ نَتْلُوْهُ عَلَيْكَ مِنَ الْاٰيٰتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ ٥٨
dzâlika natlûhu ‘alaika minal-âyâti wadz-dzikril-ḫakîm
Itulah (kisah Isa) yang digunakan Kami bacakan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagian bukti-bukti (kebenaranmu sebagai rasul) serta peringatan keras yang tersebut penuh hikmah (Al-Qur’an).
اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٥٩
inna matsala ‘îsâ ‘indallâhi kamatsali âdam, khalaqahû min turâbin tsumma qâla lahû kun fa yakûn
Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.
اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِيْنَ ٦٠
al-ḫaqqu mir rabbika fa lâ takum minal-mumtarîn
Kebenaran itu dari Tuhanmu. Oleh lantaran itu, janganlah engkau (Nabi Muhammad) termasuk orang-orang yang dimaksud ragu.
فَمَنْ حَاۤجَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ ٦١
fa man ḫâjjaka fîhi mim ba’di mâ jâ’aka minal-‘ilmi fa qul ta’âlau nad’u abnâ’anâ wa abnâ’akum wa nisâ’anâ wa nisâ’akum wa anfusanâ wa anfusakum, tsumma nabtahil fa naj’al la’natallâhi ‘alal-kâdzibîn
Siapa yang dimaksud membantahmu pada hal ini setelahnya datang ilmu kepadamu, maka katakanlah (Nabi Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami juga anak-anak kamu, istri-istri kami dan juga istri-istri kamu, diri kami serta diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan untuk para pendusta.”
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّۚ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ٦٢
inna hâdzâ lahuwal-qashashul-ḫaqq, wa mâ min ilâhin illallâh, wa innallâha lahuwal-‘azîzul-ḫakîm
Sesungguhnya ini benar-benar kisah yang mana hak. Tidak ada tuhan selain Allah, kemudian sesungguhnya Allahlah yang digunakan benar-benar Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِالْمُفْسِدِيْنَࣖ ٦٣
fa in tawallau fa innallâha ‘alîmum bil-mufsidîn
Jika merek berpaling, (ketahuilah) bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang digunakan berbuat kerusakan.
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ٦٤
qul yâ ahlal-kitâbi ta’âlau ilâ kalimatin sawâ’im bainanâ wa bainakum allâ na’buda illallâha wa lâ nusyrika bihî syai’aw wa lâ yattakhidza ba’dlunâ ba’dlan arbâbam min dûnillâh, fa in tawallau fa qûlusy-hadû bi’annâ muslimûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang dimaksud sejenis antara kami dan juga kamu, (yakni) kita bukan menyembah selain Allah, kita tiada mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, lalu tidaklah (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang digunakan lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.”
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمَآ اُنْزِلَتِ التَّوْرٰىةُ وَالْاِنْجِيْلُ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِهٖۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ٦٥
yâ ahlal-kitâbi lima tuḫâjjûna fî ibrâhîma wa mâ unzilatit-taurâtu wal-injîlu illâ mim ba’dih, a fa lâ ta’qilûn
Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim? Padahal, Taurat kemudian Injil bukan diturunkan, kecuali setelahnya beliau (Ibrahim). Apakah kamu tak mengerti?
هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ حَاجَجْتُمْ فِيْمَا لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ واَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ٦٦
hâ’antum hâ’ulâ’i ḫâjajtum fîmâ lakum bihî ‘ilmun fa lima tuḫâjjûna fîmâ laisa lakum bihî ‘ilm, wallâhu ya’lamu wa antum lâ ta’lamûn
Begitulah kamu. Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang tersebut kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan (juga) tentang apa yang digunakan tidak ada kamu ketahui? Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak ada mengetahui.
مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ٦٧
mâ kâna ibrâhîmu yahûdiyyaw wa lâ nashrâniyyaw wa lâking kâna ḫanîfam muslimâ, wa mâ kâna minal-musyrikîn
Ibrahim bukanlah manusia Yahudi kemudian bukanlah pula manusia Nasrani, melainkan ia adalah manusia yang digunakan hanif lagi berserah diri (muslim). Dia bukanlah pula satu di antaranya (golongan) orang-orang musyrik.
اِنَّ اَوْلَى النَّاسِ بِاِبْرٰهِيْمَ لَلَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ وَهٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ ٦٨
inna aulan-nâsi bi’ibrâhîma lalladzînattaba’ûhu wa hâdzan-nabiyyu walladzîna âmanû, wallâhu waliyyul-mu’minîn
Sesungguhnya pemukim yang mana paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang tersebut mengikutinya, Nabi ini (Nabi Muhammad), serta orang-orang yang beriman. Allah adalah pelindung orang-orang mukmin.
وَدَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يُضِلُّوْنَكُمْۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ ٦٩
waddath thâ’ifatum min ahlil-kitâbi lau yudlillûnakum, wa mâ yudlillûna illâ anfusahum wa mâ yasy’urûn
Segolongan Ahlulkitab ingin menyesatkan kamu. Padahal, merekan tidak ada menyesatkan (siapa pun), kecuali diri dia sendiri. Akan tetapi, mereka itu tak sadar.
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَاَنْتُمْ تَشْهَدُوْنَ ٧٠
yâ ahlal-kitâbi lima takfurûna bi’âyâtillâhi wa antum tasy-hadûn
Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَلْبِسُوْنَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ ٧١
yâ ahlal-kitâbi lima talbisûnal-ḫaqqa bil-bâthili wa taktumûnal-ḫaqqa wa antum ta’lamûn
Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang tersebut batil juga kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?
وَقَالَتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اٰمِنُوْا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوْٓا اٰخِرَهٗ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَۚ ٧٢
wa qâlath thâ’ifatum min ahlil-kitâbi âminû billadzî unzila ‘alalladzîna âmanû waj-han-nahâri wakfurû âkhirahû la’allahum yarji’ûn
Segolongan Ahlulkitab berkata (kepada sesamanya), “Berimanlah kamu pada apa yang dimaksud diturunkan terhadap orang-orang yang tersebut beriman pada awal siang serta ingkarlah pada akhir (siang) agar merek kembali (pada kekufuran).
وَلَا تُؤْمِنُوْٓا اِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْۗ قُلْ اِنَّ الْهُدٰى هُدَى اللّٰهِۙ اَنْ يُّؤْتٰىٓ اَحَدٌ مِّثْلَ مَآ اُوْتِيْتُمْ اَوْ يُحَاۤجُّوْكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْۗ قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِۚ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌۚ ٧٣
wa lâ tu’minû illâ liman tabi’a dînakum, qul innal-hudâ hudallâhi ay yu’tâ aḫadum mitsla mâ ûtîtum au yuḫâjjûkum ‘inda rabbikum, qul innal-fadlla biyadillâh, yu’tîhi may yasyâ’, wallâhu wâsi’un ‘alîm
Janganlah kamu percaya selain terhadap penduduk yang mana mengikuti agamamu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk (yang sempurna) itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan untuk kamu atau dia akan menyanggah kamu di dalam hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu di dalam tangan Allah. Dia menganugerahkannya terhadap siapa yang dimaksud Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ٧٤
yakhtashshu biraḫmatihî may yasyâ’, wallâhu dzul-fadllil-‘adhîmDia menentukan rahmat-Nya untuk siapa yang mana Dia kehendaki serta Allah memiliki karunia yang mana besar.
۞ وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَاۤىِٕمًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَيْسَ عَلَيْنَا فِى الْاُمِّيّٖنَ سَبِيْلٌۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ٧٥
wa min ahlil-kitâbi man in ta’man-hu biqinthâriy yu’addihî ilaîk, wa min-hum man in ta’man-hu bidînâril lâ yu’addihî ilaika illâ mâ dumta ‘alaihi qâ’imâ, dzâlika bi’annahum qâlû laisa ‘alainâ fil-ummiyyîna sabîl, wa yaqûlûna ‘alallâhil-kadziba wa hum ya’lamûn
Di antara Ahlulkitab ada penduduk yang dimaksud apabila engkau percayakan kepadanya harta yang digunakan banyak, niscaya ia mengembalikannya kepadamu. Akan tetapi, ada (pula) pada antara merek khalayak yang dimaksud apabila engkau percayakan kepadanya satu dinar, beliau tidaklah mengembalikannya kepadamu, kecuali apabila engkau setiap saat menagihnya. Yang demikian itu disebabkan merekan berkata, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang umi.” Mereka mengemukakan hal yang mana dusta terhadap Allah, padahal merekan mengetahui.
بَلٰى مَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ وَاتَّقٰى فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ ٧٦
balâ man aufâ bi’ahdihî wattaqâ fa innallâha yuḫibbul-muttaqîn
Bukan begitu! Siapa yang tersebut menepati janji dan juga bertakwa, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰۤىِٕكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٧٧
innalladzîna yasytarûna bi’ahdillâhi wa aimânihim tsamanang qalîlan ulâ’ika lâ khalâqa lahum fil-âkhirati wa lâ yukallimuhumullâhu wa lâ yandhuru ilaihim yaumal-qiyâmati wa lâ yuzakkîhim wa lahum ‘adzâbun alîm
Sesungguhnya orang-orang yang tersebut memperjualbelikan janji Allah lalu sumpah-sumpah merek dengan nilai murah, merekan itu tidak ada memperoleh bagian pada akhirat, Allah tidaklah akan menyapa mereka, bukan akan memperhatikan merek pada hari Kiamat, serta tiada akan menyucikan mereka. Bagi dia azab yang dimaksud pedih.
وَاِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيْقًا يَّلْوٗنَ اَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتٰبِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتٰبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ٧٨
wa inna min-hum lafarîqay yalwûna alsinatahum bil-kitâbi litaḫsabûhu minal-kitâbi wa mâ huwa minal-kitâb, wa yaqûlûna huwa min ‘indillâhi wa mâ huwa min ‘indillâh, wa yaqûlûna ‘alallâhil-kadziba wa hum ya’lamûn
Sesungguhnya ke antara merekan (Bani Israil) ada segolongan yang tersebut memutar-mutar lidahnya (ketika membaca) Alkitab agar kamu menyangka (yang dia baca) itu sebagian dari Alkitab. Padahal, itu bukanlah dari Alkitab. Mereka berkata, “Itu dari Allah.” Padahal, itu bukanlah dari Allah. Mereka mengungkapkan hal yang digunakan dusta terhadap Allah, sedangkan dia mengetahui.
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَۙ ٧٩
mâ kâna libasyarin ay yu’tiyahullâhul-kitâba wal-ḫukma wan-nubuwwata tsumma yaqûla lin-nâsi kûnû ‘ibâdal lî min dûnillâhi wa lâking kûnû rabbâniyyîna bimâ kuntum tu’allimûnal-kitâba wa bimâ kuntum tadrusûn
Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, lalu kenabian oleh Allah, kemudian beliau berkata terhadap manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, bukanlah (penyembah) Allah,” tetapi (hendaknya ia berkata), “Jadilah kamu para pengabdi Allah oleh sebab itu kamu selalu mengajarkan kitab dan juga mempelajarinya!”
وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًاۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَࣖ ٨٠
wa lâ ya’murakum an tattakhidzul-malâ’ikata wan-nabiyyîna arbâbâ, a ya’murukum bil-kufri ba’da idz antum muslimûn
Tidak (sepatutnya) pula ia menyuruh kamu menjadikan para malaikat juga para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) ia menyuruh kamu (berbuat) kekufuran setelahnya kamu menjadi muslim?
وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَاۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ ٨١
wa idz akhadzallâhu mîtsâqan-nabiyyîna lamâ âtaitukum ming kitâbiw wa ḫikmatin tsumma jâ’akum rasûlum mushaddiqul limâ ma’akum latu’minunna bihî wa latanshurunnah, qâla a aqrartum wa akhadztum ‘alâ dzâlikum ishrî, qâlû aqrarnâ, qâla fasy-hadû wa ana ma’akum minasy-syâhidîn
(Ingatlah) saat Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab kemudian hikmah kepadamu, sesudah itu datang untuk kamu manusia rasul yang dimaksud membenarkan apa yang tersebut ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya juga menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui serta menerima perjanjian dengan-Ku berhadapan dengan yang digunakan demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu, bersaksilah kamu (para nabi) juga Aku berubah menjadi saksi (pula) dengan kamu.”
فَمَنْ تَوَلّٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٨٢
fa man tawallâ ba’da dzâlika fa ulâ’ika humul-fâsiqûnSiapa yang digunakan berpaling pasca itu, mereka itu itulah orang-orang fasik.
اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ ٨٣
a fa ghaira dînillâhi yabghûna wa lahû aslama man fis-samâwâti wal-ardli thau’aw wa kar-haw wa ilaihi yurja’ûn
Mengapa merekan mencari agama selain agama Allah? Padahal, semata-mata kepada-Nya apa yang mana ada ke langit serta di bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa, dan juga belaka kepada-Nya mereka dikembalikan.
قُلْ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ٨٤
qul âmannâ billâhi wa mâ unzila ‘alainâ wa mâ unzila ‘alâ ibrâhîma wa ismâ’îla wa is-ḫâqa wa ya’qûba wal-asbâthi wa mâ ûtiya mûsâ wa ‘îsâ wan-nabiyyûna mir rabbihim lâ nufarriqu baina aḫadim min-hum wa naḫnu lahû muslimûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kami beriman terhadap Allah juga pada apa yang dimaksud diturunkan untuk kami dan juga yang mana diturunkan terhadap Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub beserta anak cucunya, juga apa yang dimaksud diberikan terhadap Musa, Isa, dan juga para nabi dari Tuhan mereka. Kami bukan membeda-bedakan manusia pun di dalam antara dia kemudian hanya sekali kepada-Nya kami berserah diri.”
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٨٥
wa may yabtaghi ghairal-islâmi dînan fa lay yuqbala min-h, wa huwa fil-âkhirati minal-khâsirîn
Siapa yang dimaksud mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tak akan diterima darinya juga di akhirat ia di antaranya orang-orang yang digunakan rugi.
كَيْفَ يَهْدِى اللّٰهُ قَوْمًا كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ وَشَهِدُوْٓا اَنَّ الرَّسُوْلَ حَقٌّ وَّجَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ٨٦
kaifa yahdillâhu qaumang kafarû ba’da îmânihim wa syahidû annar-rasûla ḫaqquw wa jâ’ahumul-bayyinât, wallâhu lâ yahdil-qaumadh-dhâlimîn
Bagaimana (mungkin) Allah akan memberi petunjuk terhadap suatu kaum yang tersebut kufur setelahnya merek beriman lalu mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar lalu bukti-bukti yang dimaksud jelas telah terjadi sampai terhadap mereka? Allah tak memberi petunjuk untuk kaum yang mana zalim.
اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ اَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللّٰهِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَۙ ٨٧
ulâ’ika jazâ’uhum anna ‘alaihim la’natallâhi wal-malâ’ikati wan-nâsi ajma’în
Mereka itu, balasannya adalah ditimpa laknat Allah, para malaikat, serta manusia seluruhnya.
خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَۙ ٨٨
khâlidîna fîhâ, lâ yukhaffafu ‘an-humul-‘adzâbu wa lâ hum yundharûn
Mereka kekal dalam dalamnya (laknat). Tidak akan diringankan azab dari mereka, kemudian mereka tidak ada diberi penangguhan,
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٨٩
illalladzîna tâbû mim ba’di dzâlika wa ashlaḫû, fa innallâha ghafûrur raḫîm
kecuali orang-orang yang bertobat setelahnya itu dan juga memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوْا كُفْرًا لَّنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الضَّاۤلُّوْنَ ٩٠
innalladzîna kafarû ba’da îmânihim tsummazdâdû kufral lan tuqbala taubatuhum, wa ulâ’ika humudl-dlâllûn
Sesungguhnya orang-orang yang tersebut kufur setelahnya beriman, kemudian bertambah kekufurannya, tidak ada akan diterima tobatnya serta merek itulah orang-orang sesat.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَࣖ ٩١
innalladzîna kafarû wa mâtû wa hum kuffârun fa lay yuqbala min aḫadihim mil’ul-ardli dzahabaw wa lawiftadâ bih, ulâ’ika lahum ‘adzâbun alîmuw wa mâ lahum min nâshirîn
Sesungguhnya orang-orang yang digunakan kufur serta meninggal sebagai orang-orang kafir bukan akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara merek sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya ia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang tersebut mendapat azab yang pedih juga bukan ada penolong bagi mereka.
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ٩٢
lan tanâlul-birra ḫattâ tunfiqû mimmâ tuḫibbûn, wa mâ tunfiqû min syai’in fa innallâha bihî ‘alîm
Kamu sekali-kali bukan akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang dimaksud kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.
۞ كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِلَّا مَا حَرَّمَ اِسْرَاۤءِيْلُ عَلٰى نَفْسِهٖ مِنْ قَبْلِ اَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرٰىةُۗ قُلْ فَأْتُوْا بِالتَّوْرٰىةِ فَاتْلُوْهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٩٣
kulluth-tha’âmi kâna ḫillal libanî isrâ’îla illâ mâ ḫarrama isrâ’îlu ‘alâ nafsihî ming qabli an tunazzalat-taurâh, qul fa’tû bit-taurâti fatlûhâ ing kuntum shâdiqîn
Semua makanan halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang tersebut diharamkan oleh Israil (Ya’qub) berhadapan dengan dirinya sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bawalah Taurat setelah itu bacalah, jikalau kamu orang-orang yang dimaksud benar.”
فَمَنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ٩٤
fa maniftarâ ‘alallâhil-kadziba mim ba’di dzâlika fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn
Maka, siapa yang tersebut mengada-adakan kebohongan terhadap Allah setelahnya itu, dia itulah orang-orang zalim.
قُلْ صَدَقَ اللّٰهُۗ فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ٩٥
qul shadaqallâh, fattabi’û millata ibrâhîma ḫanîfâ, wa mâ kâna minal-musyrikîn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mahabenar Allah (dalam firman-Nya).” Maka, ikutilah agama Ibrahim yang tersebut hanif dan juga ia tidaklah di antaranya orang-orang musyrik.
اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ ٩٦
inna awwala baitiw wudli’a lin-nâsi lalladzî bibakkata mubârakaw wa hudal lil-‘âlamîn
Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dimaksud dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang digunakan (berada) di dalam Bakkah (Makkah) yang dimaksud diberkahi serta berubah jadi petunjuk bagi seluruh alam.
فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٩٧
fîhi âyâtum bayyinâtum maqâmu ibrâhîm, wa man dakhalahû kâna âminâ, wa lillâhi ‘alan-nâsi ḫijjul-baiti manistathâ’a ilaihi sabîlâ, wa mang kafara fa innallâha ghaniyyun ‘anil-‘âlamîn
Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang tersebut jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang mana memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) khalayak yang dimaksud mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang digunakan mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَاللّٰهُ شَهِيْدٌ عَلٰى مَا تَعْمَلُوْنَ ٩٨
qul yâ ahlal-kitâbi lima takfurûna bi’âyâtillâhi wallâhu syahîdun ‘alâ mâ ta’malûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang digunakan kamu kerjakan?”
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ تَبْغُوْنَهَا عِوَجًا وَّاَنْتُمْ شُهَدَاۤءُۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ٩٩
qul yâ ahlal-kitâbi lima tashuddûna ‘an sabîlillâhi man âmana tabghûnahâ ‘iwajaw wa antum syuhadâ’, wa mallâhu bighâfilin ‘ammâ ta’malûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah? Kamu (memang) menghendakinya (jalan Allah itu) berubah menjadi bengkok, sedangkan kamu menyaksikan. Allah tak lengah terhadap apa yang dimaksud kamu kerjakan.”
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تُطِيْعُوْا فَرِيْقًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ يَرُدُّوْكُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ كٰفِرِيْنَ ١٠٠
yâ ayyuhalladzîna âmanû in tuthî’û farîqam minalladzîna ûtul-kitâba yaruddûkum ba’da îmânikum kâfirînWahai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengikuti segolongan dari pendatang yang digunakan diberi Alkitab, niscaya merek akan mengatasi kamu bermetamorfosis menjadi orang-orang kafir setelahnya beriman.
وَكَيْفَ تَكْفُرُوْنَ وَاَنْتُمْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ اٰيٰتُ اللّٰهِ وَفِيْكُمْ رَسُوْلُهٗۗ وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍࣖ ١٠١
wa kaifa takfurûna wa antum tutlâ ‘alaikum âyâtullâhi wa fîkum rasûluh, wa may ya’tashim billâhi fa qad hudiya ilâ shirâthim mustaqîm
Bagaimana kamu (sampai) berubah menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan terhadap kamu dan juga Rasul-Nya (Nabi Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu? Siapa yang dimaksud berpegang teguh pada (agama) Allah, sungguh beliau telah dilakukan diberi petunjuk ke jalan yang dimaksud lurus.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢
yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha ḫaqqa tuqâtihî wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn
Wahai orang-orang yang tersebut beriman, bertakwalah terhadap Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya serta janganlah kamu tertutup kecuali pada keadaan muslim.
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ١٠٣
wa’tashimû biḫablillâhi jamî’aw wa lâ tafarraqû wadzkurû ni’matallâhi ‘alaikum idz kuntum a’dâ’an fa allafa baina qulûbikum fa ashbaḫtum bini’matihî ikhwânâ, wa kuntum ‘alâ syafâ ḫufratim minan-nâri fa angqadzakum min-hâ, kadzâlika yubayyinullâhu lakum âyâtihî la’allakum tahtadûn
Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, serta ingatlah nikmat Allah kepadamu sewaktu kamu dahulu bermusuhan, setelah itu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula sewaktu itu) kamu berada pada tepi jurang neraka, setelah itu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
waltakum mingkum ummatuy yad’ûna ilal-khairi wa ya’murûna bil-ma’rûfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulâ’ika humul-mufliḫûn
Hendaklah ada di antara kamu segolongan penduduk yang menyeru terhadap kebajikan, menyuruh (berbuat) yang dimaksud makruf, juga menjaga dari dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang mana beruntung.
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۙ ١٠٥
wa lâ takûnû kalladzîna tafarraqû wakhtalafû mim ba’di mâ jâ’ahumul-bayyinât, wa ulâ’ika lahum ‘adzâbun ‘adhîm
Janganlah kamu berubah menjadi seperti orang-orang yang digunakan bercerai-berai kemudian berselisih setelahnya sampai terhadap merek informasi yang tersebut jelas. Mereka itulah orang-orang yang mana mendapat azab yang digunakan sangat berat.
يَّوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَّتَسْوَدُّ وُجُوْهٌۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اسْوَدَّتْ وُجُوْهُهُمْۗ اَ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ فَذُوْقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ ١٠٦
yauma tabyadldlu wujûhuw wa taswaddu wujûh, fa ammalladzînaswaddat wujûhuhum, a kafartum ba’da îmânikum fa dzûqul-‘adzâba bimâ kuntum takfurûn
(Azab itu terjadi) pada hari sewaktu ada wajah yang putih berseri serta ada pula wajah yang mana hitam kusam. Adapun orang-orang yang digunakan berwajah hitam kusam (kepada mereka dikatakan), “Mengapa kamu kafir setelahnya beriman? Oleh sebab itu, rasakanlah azab yang dimaksud disebabkan kekafiranmu.”
وَاَمَّا الَّذِيْنَ ابْيَضَّتْ وُجُوْهُهُمْ فَفِيْ رَحْمَةِ اللّٰهِۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ١٠٧
wa ammalladzînabyadldlat wujûhuhum fa fî raḫmatillâh, hum fîhâ khâlidûn
Adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada di rahmat Allah (surga). Mereka kekal pada dalamnya.
تِلْكَ اٰيٰتُ اللّٰهِ نَتْلُوْهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّۗ وَمَا اللّٰهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٨
tilka âyâtullâhi natlûhâ ‘alaika bil-ḫaqq, wa mallâhu yurîdu dhulmal lil-‘âlamîn
Itulah ayat-ayat Allah yang dimaksud Kami bacakan kepadamu dengan benar serta tidaklah Allah berkehendak melakukan kezaliman pada semesta alam.
وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُࣖ ١٠٩
wa lillâhi mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wa ilallâhi turja’ul-umûr
Milik Allahlah apa yang mana ada pada langit kemudian apa yang dimaksud ada di dalam bumi serta hanya sekali terhadap Allah segala urusan dikembalikan.
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ١١٠
kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nâsi ta’murûna bil-ma’rûfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu’minûna billâh, walau âmana ahlul-kitâbi lakâna khairal lahum, min-humul-mu’minûna wa aktsaruhumul-fâsiqûn
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang mana dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang dimaksud makruf, menghindari dari yang digunakan mungkar, serta beriman terhadap Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih besar baik bagi mereka. Di antara merekan ada yang dimaksud beriman serta kebanyakan dia adalah orang-orang fasik.
لَنْ يَّضُرُّوْكُمْ اِلَّآ اَذًىۗ وَاِنْ يُّقَاتِلُوْكُمْ يُوَلُّوْكُمُ الْاَدْبَارَۗ ثُمَّ لَا يُنْصَرُوْنَ ١١١
lay yadlurrûkum illâ adzâ, wa iy yuqâtilûkum yuwallûkumul-adbâr, tsumma lâ yunsharûn
Mereka bukan akan membahayakanmu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja. Jika dia memerangi kamu, niscaya merek berbalik ke belakang (kalah), kemudian merekan tidak ada mendapat pertolongan.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ١١٢
dluribat ‘alaihimudz-dzillatu aina mâ tsuqifû illâ biḫablim minallâhi wa ḫablim minan-nâsi wa bâ’û bighadlabim minallâhi wa dluribat ‘alaihimul-maskanah, dzâlika bi’annahum kânû yakfurûna bi’âyâtillâhi wa yaqtulûnal-ambiyâ’a bighairi ḫaqq, dzâlika bimâ ‘ashaw wa kânû ya’tadûn
Kehinaan ditimpakan terhadap merek ke mana belaka mereka berada, kecuali apabila mereka itu (berpegang) pada tali (agama) Allah serta tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan juga kesengsaraan ditimpakan untuk mereka. Yang demikian itu akibat mereka mengingkari ayat-ayat Allah lalu membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang mana benar). Yang demikian itu akibat mereka durhaka lalu melampaui batas.
۞ لَيْسُوْا سَوَاۤءًۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ ١١٣
laisû sawâ’â, min ahlil-kitâbi ummatung qâ’imatuy yatlûna âyâtillâhi ânâ’al-laili wa hum yasjudûn
Mereka tidaklah sama. Di antara Ahlulkitab ada golongan yang digunakan lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada waktu malam hari pada keadaan bersujud (salat).
يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ١١٤
yu’minûna billâhi wal-yaumil-âkhiri wa ya’murûna bil-ma’rûfi wa yan-hauna ‘anil-mungkari wa yusâri’ûna fil-khairât, wa ulâ’ika minash-shâliḫîn
Mereka beriman untuk Allah serta hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang tersebut makruf, menghindari dari yang digunakan mungkar, dan juga bersegera (mengerjakan) beraneka kebajikan. Mereka itu diantaranya orang-orang saleh.
وَمَا يَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُّكْفَرُوْهُۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِالْمُتَّقِيْنَ ١١٥
wa mâ yaf’alû min khairin fa lay yukfarûh, wallâhu ‘alîmum bil-muttaqîn
Kebaikan apa pun yang tersebut dia kerjakan, merek tiada akan dihalangi dari (pahala)-nya. Allah Maha Mengetahui orang-orang bertakwa.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ١١٦
innalladzîna kafarû lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai’â, wa ulâ’ika ash-ḫâbun-nâr, hum fîhâ khâlidûn
Sesungguhnya orang-orang yang kufur, baik harta maupun anak-anaknya, sedikit pun bukan dapat menolak (azab) Allah. Mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal dalam dalamnya.
مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْنَ فِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيْحٍ فِيْهَا صِرٌّ اَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَاَهْلَكَتْهُۗ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ ١١٧
matsalu mâ yunfiqûna fî hâdzihil-ḫayâtid-dun-yâ kamatsali rîḫin fîhâ shirrun ashâbat ḫartsa qaumin dhalamû anfusahum fa ahlakat-h, wa mâ dhalamahumullâhu wa lâkin anfusahum yadhlimûn
Perumpamaan harta yang digunakan merekan infakkan ke pada hidup globus ini adalah ibarat angin yang digunakan mengandung hawa sangat dingin yang digunakan menimpa tumbuhan (milik) suatu kaum yang digunakan menzalimi diri sendiri, berikutnya (angin itu) merusaknya. Allah tidak ada menzalimi mereka, tetapi mereka itu yang mana menzalimi diri sendiri.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ ١١٨
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tattakhidzû bithânatam min dûnikum lâ ya’lûnakum khabâlâ, waddû mâ ‘anittum, qad badatil-baghdlâ’u min afwâhihim wa mâ tukhfî shudûruhum akbar, qad bayyannâ lakumul-âyâti ing kuntum ta’qilûn
Wahai orang-orang yang tersebut beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang dalam luar kalangan (agama)-mu (karena) merek tidak ada henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang tersebut menyusahkanmu. Sungguh, sudah nyata kebencian dari mulut dia lalu apa yang tersebut merekan sembunyikan pada hati lebih lanjut besar. Sungguh, Kami telah terjadi menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), apabila kamu berpikir.
هٰٓاَنْتُمْ اُولَاۤءِ تُحِبُّوْنَهُمْ وَلَا يُحِبُّوْنَكُمْ وَتُؤْمِنُوْنَ بِالْكِتٰبِ كُلِّهٖۚ وَاِذَا لَقُوْكُمْ قَالُوْٓا اٰمَنَّاۖ وَاِذَا خَلَوْا عَضُّوْا عَلَيْكُمُ الْاَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِۗ قُلْ مُوْتُوْا بِغَيْظِكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ ١١٩
hâ’antum ulâ’i tuḫibbûnahum wa lâ yuḫibbûnakum wa tu’minûna bil-kitâbi kullih, wa idzâ laqûkum qâlû âmannâ wa idzâ khalau ‘adldlû ‘alaikumul-anâmila minal-ghaîdh, qul mûtû bighaidhikum, innallâha ‘alîmum bidzâtish-shudûr
Begitulah kamu. Kamu menyukai mereka, padahal merekan bukan menyukaimu, serta kamu beriman pada semua kitab. Apabila merek berjumpa denganmu, dia berkata, “Kami beriman.” Apabila merekan menyendiri, merek menggigit ujung jari lantaran murka kepadamu. Katakanlah, “Matilah kamu sebab kemurkaanmu itu!” Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔاۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌࣖ ١٢٠
in tamsaskum ḫasanatun tasu’hum wa in tushibkum sayyi’atuy yafraḫû bihâ, wa in tashbirû wa tattaqû lâ yadlurrukum kaiduhum syai’â, innallâha bimâ ya’malûna muḫîth
Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) merek bersedih hati. Adapun apabila kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar juga bertakwa, tidaklah tipu daya dia akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang digunakan mereka kerjakan.
وَاِذْ غَدَوْتَ مِنْ اَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِيْنَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ ١٢١
wa idz ghadauta min ahlika tubawwi’ul-mu’minîna maqâ’ida lil-qitâl, wallâhu samî’un ‘alîm
(Ingatlah) ketika engkau (Nabi Muhammad) berangkat pada pagi hari meninggalkan keluargamu untuk mengatur orang-orang mukmin pada pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
اِذْ هَمَّتْ طَّۤاىِٕفَتٰنِ مِنْكُمْ اَنْ تَفْشَلَاۙ وَاللّٰهُ وَلِيُّهُمَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١٢٢
idz hammath thâ’ifatâni mingkum an tafsyalâ wallâhu waliyyuhumâ, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu’minûn
(Ingatlah) pada saat dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) dikarenakan takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Oleh oleh sebab itu itu, hendaklah untuk Allah semata orang-orang mukmin bertawakal.
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٢٣
wa laqad nasharakumullâhu bibadriw wa antum adzillah, fattaqullâha la’allakum tasykurûn
Sungguh, Allah benar-benar sudah pernah menolong kamu pada Perang Badar, padahal kamu (pada ketika itu) adalah orang-orang lemah. Oleh akibat itu, bertakwalah untuk Allah agar kamu bersyukur.
اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ ١٢٤
idz taqûlu lil-mu’minîna a lay yakfiyakum ay yumiddakum rabbukum bitsalâtsati âlâfim minal-malâ’ikati munzalîn
(Ingatlah) sewaktu engkau (Nabi Muhammad) mengungkapkan terhadap orang-orang mukmin, “Apakah bukan cukup bagimu bahwa Tuhanmu membantumu dengan tiga ribu malaikat yang mana diturunkan (dari langit)?”
بَلٰٓىۙ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ ١٢٥
balâ in tashbirû wa tattaqû wa ya’tûkum min faurihim hâdzâ yumdidkum rabbukum bikhamsati âlâfim minal-malâ’ikati musawwimîn
“Ya (cukup).” Jika kamu bersabar juga bertakwa, sesudah itu mereka itu datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang tersebut memakai tanda.
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى لَكُمْ وَلِتَطْمَىِٕنَّ قُلُوْبُكُمْ بِهٖۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِۙ ١٢٦
wa mâ ja’alahullâhu illâ busyrâ lakum wa litathma’inna qulûbukum bih, wa man-nashru illâ min ‘indillâhil-‘azîzil-ḫakîm
Allah tak menjadikannya (pertolongan itu) kecuali hanya saja sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)-mu serta agar hatimu tenang karenanya. Tidak ada kemenangan selain dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوْا خَاۤىِٕبِيْنَ ١٢٧
liyaqtha’a tharafam minalladzîna kafarû au yakbitahum fa yangqalibû khâ’ibîn
(Hal itu dilakukan) untuk membinasakan segolongan khalayak yang digunakan kufur atau untuk menjadikan merek hina sehingga mereka itu kembali tanpa memperoleh apa pun.
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ اَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَاِنَّهُمْ ظٰلِمُوْنَ ١٢٨
laisa laka minal-amri syai’un au yatûba ‘alaihim au yu’adzdzibahum fa innahum dhâlimûn
Hal itu sejenis sekali bukanlah berubah menjadi urusanmu (Nabi Muhammad), apakah Allah menerima tobat merek atau mengazabnya sebab sesungguhnya mereka itu orang-orang zalim.
وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌࣖ ١٢٩
wa lillâhi mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, yaghfiru limay yasyâ’u wa yu’adzdzibu may yasyâ’, wallâhu ghafûrur raḫîm
Milik Allahlah segala yang tersebut ada dalam langit kemudian segala yang mana ada pada bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki juga mengazab siapa yang mana Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةًۖ وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ١٣٠
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ ta’kulur-ribâ adl’âfam mudlâ’afataw wattaqullâha la’allakum tufliḫûn
Wahai orang-orang yang dimaksud beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda juga bertakwalah untuk Allah agar kamu beruntung.
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْٓ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَۚ ١٣١wattaqun-nârallatî u’iddat lil-kâfirînLindungilah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۚ ١٣٢
wa athî’ullâha war-rasûla la’allakum tur-ḫamûn
Taatilah Allah kemudian Rasul (Nabi Muhammad) agar kamu diberi rahmat.
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣
wa sâri’û ilâ maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluhas-samâwâtu wal-ardlu u’iddat lil-muttaqîn
Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu lalu surga (yang) luasnya (seperti) langit lalu bumi yang mana disediakan bagi orang-orang yang dimaksud bertakwa,
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
alladzîna yunfiqûna fis-sarrâ’i wadl-dlarrâ’i wal-kâdhimînal-ghaidha wal-‘âfîna ‘anin-nâs, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn
(yaitu) orang-orang yang setiap saat berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, juga orang-orang yang mana memaafkan (kesalahan) penduduk lain. Allah mencintai orang-orang yang digunakan berbuat kebaikan.
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ١٣٥
walladzîna idzâ fa’alû fâḫisyatan au dhalamû anfusahum dzakarullâha fastaghfarû lidzunûbihim, wa may yaghfirudz-dzunûba illallâh, wa lam yushirrû ‘alâ mâ fa’alû wa hum ya’lamûn
Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, dia (segera) mengingat Allah kemudian memohon ampunan menghadapi dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang tersebut dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidaklah meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan dia mengetahui(-nya).
اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ ١٣٦
ulâ’ika jazâ’uhum maghfiratum mir rabbihim wa jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ, wa ni’ma ajrul-‘âmilîn
Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan dia kemudian surga-surga yang mana mengalir dalam bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalam dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mana mengerjakan (amal-amal saleh).
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌۙ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ١٣٧
qad khalat ming qablikum sunanun fa sîrû fil-ardli fandhurû kaifa kâna ‘âqibatul-mukadzdzibîn
Sungguh, telah lama berlalu sebelum kamu sunah-sunah (Allah). Oleh akibat itu, berjalanlah dalam (segenap penjuru) bumi kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta (rasul-rasul).
هٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ ١٣٨
hâdzâ bayânul lin-nâsi wa hudaw wa mau’idhatul lil-muttaqîn
Inilah (Al-Qur’an) suatu pernyataan yang digunakan jelas untuk semua manusia, petunjuk, juga pelajaran bagi orang-orang yang dimaksud bertakwa.
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ١٣٩
wa lâ tahinû wa lâ taḫzanû wa antumul-a’launa ing kuntum mu’minîn
Janganlah kamu (merasa) lemah lalu jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling membesar (derajatnya) apabila kamu orang-orang mukmin.
اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗۗ وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ ١٤٠
iy yamsaskum qar-ḫun fa qad massal-qauma qar-ḫum mitsluh, wa tilkal-ayyâmu nudâwiluhâ bainan-nâs, wa liya’lamallâhulladzîna âmanû wa yattakhidza mingkum syuhadâ’, wallâhu lâ yuḫibbudh-dhâlimîn
Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka dia pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang tersebut serupa. Masa (kejayaan dan juga kehancuran) itu Kami pergilirkan dalam antara manusia (agar merek mendapat pelajaran) kemudian Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) serta sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak ada menyukai orang-orang zalim.
وَلِيُمَحِّصَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَمْحَقَ الْكٰفِرِيْنَ ١٤١
wa liyumaḫḫishallâhulladzîna âmanû wa yam-ḫaqal-kâfirîn
(Pergiliran yang dimaksud juga) agar Allah membersihkan orang-orang yang digunakan beriman (dari dosa mereka) lalu membinasakan orang-orang kafir.
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ ١٤٢
am ḫasibtum an tadkhulul-jannata wa lammâ ya’lamillâhulladzîna jâhadû mingkum wa ya’lamash-shâbirîn
Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang dimaksud berjihad ke antara kamu dan juga belum nyata pula orang-orang yang tersebut sabar.
وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَلْقَوْهُۖ فَقَدْ رَاَيْتُمُوْهُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَࣖ ١٤٣
wa laqad kuntum tamannaunal-mauta ming qabli an talqauhu fa qad ra’aitumûhu wa antum tandhurûn
Sungguh, kamu benar-benar mengharapkan berakhir (syahid) sebelum kamu menghadapinya (peperangan). Maka, (sekarang) kamu sungguh telah dilakukan mengamati (peperangan itu) serta menyaksikan (kematian).
وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ١٤٤
wa mâ muḫammadun illâ rasûl, qad khalat ming qablihir-rusul, a fa im mâta au qutilangqalabtum ‘alâ a’qâbikum, wa may yangqalib ‘alâ ‘aqibaihi fa lay yadlurrallâha syai’â, wa sayajzillâhusy-syâkirîn
(Nabi) Muhammad hanyalah seseorang rasul. Sebelumnya sudah berlalu beberapa rasul. Apakah apabila beliau wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang mana berbalik ke belakang, maka ia tidak ada akan mendatangkan mudarat untuk Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan terhadap orang-orang yang dimaksud bersyukur.
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًاۗ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الْاٰخِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَاۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ ١٤٥
wa mâ kâna linafsin an tamûta illâ bi’idznillâhi kitâbam mu’ajjalâ, wa may yurid tsawâbad-dun-yâ nu’tihî min-hâ, wa may yurid tsawâbal-âkhirati nu’tihî min-hâ, wa sanajzisy-syâkirîn
Setiap yang digunakan bernyawa tiada akan mati, kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tersebut telah dilakukan ditentukan waktunya. Siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu kemudian siapa yang digunakan menghendaki pahala akhirat, niscaya Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Kami akan memberi balasan untuk orang-orang yang dimaksud bersyukur.
وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ ١٤٦
wa ka’ayyim min nabiyying qâtala ma’ahû ribbiyyûna katsîr, fa mâ wahanû limâ ashâbahum fî sabîlillâhi wa mâ dla’ufû wa mastakânû, wallâhu yuḫibbush-shâbirîn
Betapa berbagai nabi yang mana berperang didampingi beberapa orang besar dari pengikut(-nya) yang dimaksud bertakwa. Mereka tak (menjadi) lemah sebab bencana yang mana menimpanya di dalam jalan Allah, tidak ada patah semangat, kemudian tidak ada (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوْا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِسْرَافَنَا فِيْٓ اَمْرِنَا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ١٤٧
wa mâ kâna qaulahum illâ ang qâlû rabbanaghfir lanâ dzunûbanâ wa isrâfanâ fî amrinâ wa tsabbit aqdâmanâ wanshurnâ ‘alal-qaumil-kâfirîn
Tidak lain ucapan mereka kecuali doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan juga tindakan-tindakan kami yang berlebihan pada urusan kami, tetapkanlah pendirian kami, kemudian tolonglah kami terhadap kaum yang dimaksud kafir.”
فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَࣖ ١٤٨
fa âtâhumullâhu tsawâbad-dun-yâ wa ḫusna tsawâbil-âkhirah, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn
Maka, Allah menganugerahi dia balasan (di) globus juga pahala yang digunakan baik (di) akhirat. Allah mencintai orang-orang yang digunakan berbuat kebaikan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تُطِيْعُوا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَرُدُّوْكُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ ١٤٩
yâ ayyuhalladzîna âmanû in tuthî’ulladzîna kafarû yaruddûkum ‘alâ a’qâbikum fa tangqalibû khâsirîn
Wahai orang-orang yang tersebut beriman, apabila kamu menaati orang-orang yang dimaksud kufur, niscaya dia akan memulihkan kamu ke belakang (murtad). Akibatnya, kamu akan kembali pada keadaan merugi.
بَلِ اللّٰهُ مَوْلٰىكُمْۚ وَهُوَ خَيْرُ النّٰصِرِيْنَ ١٥٠
balillâhu maulâkum, wa huwa khairun nâshirîn
Namun, (hanya) Allahlah pelindungmu lalu Dia penolong yang mana terbaik.
سَنُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَٓا اَشْرَكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًاۚ وَمَأْوٰىهُمُ النَّارُۗ وَبِئْسَ مَثْوَى الظّٰلِمِيْنَ ١٥١
sanulqî fî qulûbilladzîna kafarur-ru’ba bimâ asyrakû billâhi mâ lam yunazzil bihî sulthânâ, wa ma’wâhumun-nâr, wa bi’sa matswadh-dhâlimîn
Kami akan memasukkan rasa takut ke di hati orang-orang yang digunakan kufur dikarenakan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang digunakan Allah tiada menurunkan keterangan tentangnya. Tempat kembali merekan adalah neraka. (Itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim.
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ بِاِذْنِهٖۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ١٥٢
wa laqad shadaqakumullâhu wa’dahû idz taḫussûnahum bi’idznih, ḫattâ idzâ fasyiltum wa tanâza’tum fil-amri wa ‘ashaitum mim ba’di mâ arâkum mâ tuḫibbûn, mingkum may yurîdud-dun-yâ wa mingkum may yurîdul-âkhirah, tsumma sharafakum ‘an-hum liyabtaliyakum, wa laqad ‘afâ ‘angkum, wallâhu dzû fadllin ‘alal-mu’minîn
Sungguh, Allah benar-benar telah terjadi memenuhi janji-Nya kepadamu di mana kamu membunuh merekan dengan izin-Nya sampai pada pada waktu kamu (dalam keadaan) lemah, berselisih di urusan itu, kemudian mengabaikan (perintah Rasul) pasca Allah memperlihatkan kepadamu apa yang tersebut kamu sukai. Di antara kamu ada khalayak yang menghendaki bumi lalu dalam antara kamu ada (pula) pendatang yang mana menghendaki akhirat. Kemudian, Allah memalingkan kamu dari merek untuk mengujimu. Sungguh, Dia benar-benar sudah pernah memaafkan kamu. Allah mempunyai karunia (yang diberikan) untuk orang-orang mukmin.
۞ اِذْ تُصْعِدُوْنَ وَلَا تَلْوٗنَ عَلٰٓى اَحَدٍ وَّالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ فِيْٓ اُخْرٰىكُمْ فَاَثَابَكُمْ غَمًّا ۢ بِغَمٍّ لِّكَيْلَا تَحْزَنُوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَآ اَصَابَكُمْۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ١٥٣
idz tush’idûna wa lâ talwûna ‘alâ aḫadiw war-rasûlu yad’ûkum fî ukhrâkum fa atsâbakum ghammam bighammil likai lâ taḫzanû ‘alâ mâ fâtakum wa lâ mâ ashâbakum, wallâhu khabîrum bimâ ta’malûn
(Ingatlah) saat kamu lari lalu tiada menoleh untuk siapa pun, sedangkan Rasul (Muhammad) memanggilmu dari belakang. Oleh dikarenakan itu, Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tidak ada bersedih hati (lagi) terhadap apa yang tersebut luput dari kamu lalu terhadap apa yang digunakan menimpamu. Allah Mahateliti terhadap apa yang digunakan kamu kerjakan.
ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِۗ يُخْفُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَاۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ ١٥٤
tsumma anzala ‘alaikum mim ba’dil-ghammi amanatan nu’âsay yaghsyâ thâ’ifatam mingkum wa thâ’ifatung qad ahammat-hum anfusuhum yadhunnûna billâhi ghairal-ḫaqqi dhannal-jâhiliyyah, yaqûlûna hal lanâ minal-amri min syaî’, qul innal-amra kullahû lillâh, yukhfûna fî anfusihim mâ lâ yubdûna lak, yaqûlûna lau kâna lanâ minal-amri syai’um mâ qutilnâ hâhunâ, qul lau kuntum fî buyûtikum labarazalladzîna kutiba ‘alaihimul-qatlu ilâ madlâji’ihim, wa liyabtaliyallâhu mâ fî shudûrikum wa liyumaḫḫisha mâ fî qulûbikum, wallâhu ‘alîmum bidzâtish-shudûr
Setelah kamu ditimpa kesedihan, kemudian Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang mana meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah lama mencemaskan diri merek sendiri. Mereka berprasangka yang tidaklah benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang dimaksud dapat kita perbuat di urusan ini?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan di hatinya apa yang digunakan tak merek terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Seandainya ada sesuatu yang dapat kami perbuat pada urusan ini, niscaya kami tiada akan dibunuh (dikalahkan) dalam sini.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya kamu ada dalam rumahmu, niscaya orang-orang yang tersebut telah lama ditetapkan akan terhenti terbunuh itu meninggalkan (juga) ke tempat mereka itu terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji yang tersebut ada di dadamu serta untuk membersihkan yang tersebut ada pada hatimu. Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۙ اِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوْاۚ وَلَقَدْ عَفَا اللّٰهُ عَنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌࣖ ١٥٥
innalladzîna tawallau mingkum yaumaltaqal-jam’âni innamastazallahumusy-syaithânu biba’dli mâ kasabû, wa laqad ‘afallâhu ‘an-hum, innallâha ghafûrun ḫalîm
Sesungguhnya orang-orang yang tersebut berpaling ke antara kamu pada hari ketika dua pasukan bertemu, sesungguhnya merekan hanyalah digelincirkan oleh setan disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang dimaksud sudah pernah mereka perbuat. Allah benar-benar sudah pernah memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَقَالُوْا لِاِخْوَانِهِمْ اِذَا ضَرَبُوْا فِى الْاَرْضِ اَوْ كَانُوْا غُزًّى لَّوْ كَانُوْا عِنْدَنَا مَا مَاتُوْا وَمَا قُتِلُوْاۚ لِيَجْعَلَ اللّٰهُ ذٰلِكَ حَسْرَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١٥٦
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ takûnû kalladzîna kafarû wa qâlû li’ikhwânihim idzâ dlarabû fil-ardli au kânû ghuzzal lau kânû ‘indanâ mâ mâtû wa mâ qutilû, liyaj’alallâhu dzâlika ḫasratan fî qulûbihim, wallâhu yuḫyî wa yumît, wallâhu bimâ ta’malûna bashîr
Wahai orang-orang yang digunakan beriman, janganlah seperti orang-orang yang tersebut kufur kemudian berbicara tentang saudara-saudaranya, apabila dia mengadakan perjalanan pada bumi atau berperang, “Seandainya mereka permanen dengan kami, tentulah dia tidak ada tertutup lalu tidaklah terbunuh.” (Allah membiarkan mereka bersikap demikian) dikarenakan Allah hendak menjadikan itu (kelak) sebagai penyesalan dalam hati mereka.
وَلَىِٕنْ قُتِلْتُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ١٥٧
wa la’ing qutiltum fî sabîlillâhi au muttum lamaghfiratum minallâhi wa raḫmatun khairum mimmâ yajma’ûn
Sungguh, jikalau kamu gugur ke jalan Allah atau mati, pastilah ampunan Allah dan juga rahmat-Nya lebih lanjut baik (bagimu) daripada apa (harta rampasan) yang mereka kumpulkan.
وَلَىِٕنْ مُّتُّمْ اَوْ قُتِلْتُمْ لَاِلَى اللّٰهِ تُحْشَرُوْنَ ١٥٨
wa la’im muttum au qutiltum la’ilallâhi tuḫsyarûn
Sungguh, apabila kamu tertutup atau gugur, pastilah untuk Allah kamu dikumpulkan.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩
fa bimâ raḫmatim minallâhi linta lahum, walau kunta fadhdhan ghalîdhal-qalbi lanfadldlû min ḫaulika fa’fu ‘an-hum wastaghfir lahum wa syâwir-hum fil-amr, fa idzâ ‘azamta fa tawakkal ‘alallâh, innallâha yuḫibbul-mutawakkilîn
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras lalu berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh akibat itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, juga bermusyawarahlah dengan mereka pada segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau sudah pernah membulatkan tekad, bertawakallah untuk Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang dimaksud bertawakal.
اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْۚ وَاِنْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١٦٠
iy yanshurkumullâhu fa lâ ghâliba lakum, wa iy yakhdzulkum fa man dzalladzî yanshurukum mim ba’dih, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu’minûn
Jika Allah menolongmu, bukan ada yang tersebut (dapat) mengalahkanmu dan juga apabila Dia membiarkanmu (tidak memberimu pertolongan), siapa yang tersebut (dapat) menolongmu pasca itu? Oleh dikarenakan itu, hendaklah terhadap Allah cuma orang-orang mukmin bertawakal.
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّۗ وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ١٦١
wa mâ kâna linabiyyin ay yaghull, wa may yaghlul ya’ti bimâ ghalla yaumal-qiyâmah, tsumma tuwaffâ kullu nafsim mâ kasabat wa hum lâ yudhlamûn
Tidak layak manusia nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang tersebut menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat beliau akan datang mengakibatkan apa yang dimaksud diselewengkannya itu. Kemudian, setiap warga akan diberi balasan secara sempurna sesuai apa yang dimaksud mereka itu lakukan lalu merekan tidaklah dizalimi.
اَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللّٰهِ كَمَنْۢ بَاۤءَ بِسَخَطٍ مِّنَ اللّٰهِ وَمَأْوٰىهُ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ١٦٢
a fa manittaba’a ridlwânallâhi kamam bâ’a bisakhathim minallâhi wa ma’wâhu jahannam, wa bi’sal-mashîr
Apakah pendatang yang mengikuti (jalan) rida Allah serupa dengan penduduk yang digunakan kembali dengan mengakibatkan kemurkaan dari Allah dan juga tempatnya adalah (neraka) Jahanam? Itulah seburuk-buruk tempat kembali.
هُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌ ۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ ١٦٣
hum darajâtun ‘indallâh, wallâhu bashîrum bimâ ya’malûnMereka bertingkat-tingkat dalam sisi Allah. Allah Maha Melihat apa yang dimaksud mereka kerjakan.
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ١٦٤
laqad mannallâhu ‘alal-mu’minîna idz ba’atsa fîhim rasûlam min anfusihim yatlû ‘alaihim âyâtihî wa yuzakkîhim wa yu’allimuhumul-kitâba wal-ḫikmah, wa ing kânû ming qablu lafî dlalâlim mubîn
Sungguh, Allah benar-benar telah terjadi memberi karunia untuk orang-orang mukmin sewaktu (Dia) mengutus dalam tengah-tengah mereka itu pribadi Rasul (Muhammad) dari kalangan dia sendiri yang dimaksud membacakan untuk merek ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, kemudian mengajarkan untuk mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) juga hikmah. Sesungguhnya merek sebelum itu benar-benar di kesesatan yang digunakan nyata.
اَوَلَمَّآ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَاۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١٦٥
a wa lammâ ashâbatkum mushîbatung qad ashabtum mitslaihâ qultum annâ hâdzâ, qul huwa min ‘indi anfusikum, innallâha ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Apakah ketika kamu ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah dilakukan memperoleh (kenikmatan) dua kali lipatnya (pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Mahakuasa berhadapan dengan segala sesuatu.
وَمَآ اَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ فَبِاِذْنِ اللّٰهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِيْنَۙ ١٦٦
wa mâ ashâbakum yaumaltaqal-jam’âni fa bi’idznillâhi wa liya’lamal-mu’minîn
Apa yang mana menimpa kamu pada hari sewaktu dua pasukan bertemu berjalan menghadapi izin Allah lalu agar Dia mengetahui siapa khalayak (yang benar-benar) beriman
وَلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ نَافَقُوْاۖ وَقِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَوِ ادْفَعُوْاۗ قَالُوْا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّاتَّبَعْنٰكُمْۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَىِٕذٍ اَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْاِيْمَانِۚ يَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُوْنَۚ ١٦٧
wa liya’lamalladzîna nâfaqû wa qîla lahum ta’âlau qâtilû fî sabîlillâhi awidfa’û, qâlû lau na’lamu qitâlal lattaba’nâkum, hum lil-kufri yauma’idzin aqrabu min-hum lil-îmân, yaqûlûna bi’afwâhihim mâ laisa fî qulûbihim, wallâhu a’lamu bimâ yaktumûn
dan mengetahui orang-orang yang digunakan munafik. Dikatakan terhadap mereka, “Marilah berperang ke jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka menjawab, “Seandainya kami mengetahui (bagaimana cara) berperang, tentulah kami mengikutimu.” Mereka pada hari itu tambahan dekat pada kekufuran daripada keimanan. Mereka mengungkapkan dengan mulutnya sesuatu yang tiada ada di hatinya. Allah lebih banyak mengetahui segala sesuatu yang tersebut dia sembunyikan.
اَلَّذِيْنَ قَالُوْا لِاِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوْا لَوْ اَطَاعُوْنَا مَا قُتِلُوْاۗ قُلْ فَادْرَءُوْا عَنْ اَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١٦٨
alladzîna qâlû li’ikhwânihim wa qa’adû lau athâ’ûnâ mâ qutilû, qul fadra’û ‘an anfusikumul-mauta ing kuntum shâdiqîn
(Mereka itu adalah) orang-orang yang berbicara tentang saudara-saudaranya (yang mengambil bagian berperang dan juga terbunuh), sedangkan dia sendiri bukan turut berperang, “Seandainya merekan mengikuti kami, tentulah dia tiada terbunuh.” Katakanlah, “Cegahlah kematian itu dari dirimu jikalau kamu orang-orang benar.”
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًاۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ ١٦٩
wa lâ taḫsabannalladzîna qutilû fî sabîlillâhi amwâtâ, bal aḫyâ’un ‘inda rabbihim yurzaqûn
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang mana gugur pada jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup kemudian dianugerahi rezeki dalam sisi Tuhannya.
فَرِحِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۙ وَيَسْتَبْشِرُوْنَ بِالَّذِيْنَ لَمْ يَلْحَقُوْا بِهِمْ مِّنْ خَلْفِهِمْۙ اَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۘ ١٧٠
fariḫîna bimâ âtâhumullâhu min fadllihî wa yastabsyirûna billadzîna lam yal-ḫaqû bihim min khalfihim allâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḫzanûn
Mereka bergembira dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya dan juga bergirang hati melawan (keadaan) orang-orang yang dimaksud berada dalam belakang yang belum menyusul mereka, yaitu bahwa tidak ada ada rasa takut pada dia dan juga dia tak bersedih hati.
۞ يَسْتَبْشِرُوْنَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍۗ وَاَنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُؤْمِنِيْنَࣖ ١٧١
yastabsyirûna bini’matim minallâhi wa fadll, wa annallâha lâ yudlî’u ajral-mu’minîn
Mereka bergirang hati dengan nikmat lalu karunia dari Allah dan juga bahwa sesungguhnya Allah tak menyia-nyiakan pahala orang-orang mukmin,
اَلَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَصَابَهُمُ الْقَرْحُۖ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا اَجْرٌ عَظِيْمٌۚ ١٧٢
alladzînastajâbû lillâhi war-rasûli mim ba’di mâ ashâbahumul-qar-ḫu lilladzîna aḫsanû min-hum wattaqau ajrun ‘adhîm
(yaitu) orang-orang yang digunakan memenuhi (seruan) Allah serta Rasul pasca mereka itu menderita luka-luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebaikan dan juga bertakwa dalam antara dia akan mendapat pahala yang mana sangat besar,
اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ١٧٣
alladzîna qâla lahumun-nâsu innan-nâsa qad jama’û lakum fakhsyauhum fa zâdahum îmânaw wa qâlû ḫasbunallâhu wa ni’mal-wakîl
(yaitu) mereka yang mana (ketika ada) orang-orang menyatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah terjadi menghimpun (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh sebab itu, takutlah untuk mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman dia lalu dia menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami serta Dia sebaik-baik pelindung.”
فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْۤءٌۙ وَّاتَّبَعُوْا رِضْوَانَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ ١٧٤
fangqalabû bini’matim minallâhi wa fadllil lam yamsas-hum sû’uw wattaba’û ridlwânallâh, wallâhu dzû fadllin ‘adhîm
Mereka kembali dengan nikmat lalu karunia dari Allah. Mereka tak ditimpa suatu bencana dan juga merek mengikuti (jalan) rida Allah. Allah mempunyai karunia yang tersebut besar.
اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ١٧٥
innamâ dzâlikumusy-syaithânu yukhawwifu auliyâ’ahû fa lâ takhâfûhum wa khâfûni ing kuntum mu’minîn
Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh akibat itu, janganlah takut terhadap mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jikalau kamu orang-orang mukmin.
وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْكُفْرِۚ اِنَّهُمْ لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ اَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِى الْاٰخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۚ ١٧٦
wa lâ yaḫzungkalladzîna yusâri’ûna fil-kufr, innahum lay yadlurrullâha syai’â, yurîdullâhu allâ yaj’ala lahum ḫadhdhan fil-âkhirati wa lahum ‘adzâbun ‘adhîm
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang mana dengan cepat melakukan kekufuran. Sesungguhnya sedikit pun merek tidak ada merugikan Allah. Allah tak akan memberi bagian (pahala) untuk mereka di dalam akhirat serta merekan akan mendapat azab yang tersebut sangat besar.
اِنَّ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٧٧
innalladzînasytarawul-kufra bil-îmâni lay yadlurrullâha syai’â, wa lahum ‘adzâbun alîm
Sesungguhnya orang-orang yang membeli kekufuran dengan iman sedikit pun tidaklah merugikan Allah juga akan mendapat azab yang mana sangat pedih.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْۗ اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ١٧٨
wa lâ yaḫsabannalladzîna kafarû annamâ numlî lahum khairul li’anfusihim, innamâ numlî lahum liyazdâdû itsmâ, wa lahum ‘adzâbum muhîn
Jangan sekali-kali orang-orang kafir mengira bahwa sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepadanya baik bagi dirinya. Sesungguhnya Kami memberinya tenggang waktu hanya sekali agar dosa mereka itu makin bertambah serta mereka akan mendapat azab yang mana menghinakan.
مَا كَانَ اللّٰهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلٰى مَآ اَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتّٰى يَمِيْزَ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَجْتَبِيْ مِنْ رُّسُلِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۚ وَاِنْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا فَلَكُمْ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٧٩
mâ kânallâhu liyadzaral-mu’minîna ‘alâ mâ antum ‘alaihi ḫattâ yamîzal-khabîtsa minath-thayyib, wa mâ kânallâhu liyuthli’akum ‘alal-ghaibi wa lâkinnallâha yajtabî mir rusulihî may yasyâ’u fa âminû billâhi wa rusulih, wa in tu’minû wa tattaqû fa lakum ajrun ‘adhîm
Allah tidak ada akan membiarkan orang-orang mukmin di keadaan sebagaimana kamu sekarang ini, (tetapi Allah akan mengujinya) sehingga Dia membedakan yang tersebut buruk dari yang mana baik. Allah tiada akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang dimaksud gaib, tetapi Allah memilih siapa yang digunakan Dia kehendaki dalam antara rasul-rasul-Nya. Oleh oleh sebab itu itu, berimanlah untuk Allah lalu rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman lalu bertakwa, kamu akan mendapat pahala yang mana sangat besar.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْۗ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْۗ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهٖ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ وَلِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌࣖ ١٨٠
wa lâ yaḫsabannalladzîna yabkhalûna bimâ âtâhumullâhu min fadllihî huwa khairal lahum, bal huwa syarrul lahum, sayuthawwaqûna mâ bakhilû bihî yaumal-qiyâmah, wa lillâhi mîrâtsus-samâwâti wal-ardl, wallâhu bimâ ta’malûna khabîr
Jangan sekali-kali orang-orang yang mana kikir dengan karunia yang digunakan Allah anugerahkan kepadanya mengira bahwa (kekikiran) itu baik bagi mereka. Sebaliknya, (kekikiran) itu buruk bagi mereka. Pada hari Kiamat, merek akan dikalungi dengan sesuatu yang dengannya merek berbuat kikir. Milik Allahlah warisan (yang ada di) langit kemudian pada bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ وَّنَقُوْلُ ذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ ١٨١
laqad sami’allâhu qaulalladzîna qâlû innallâha faqîruw wa naḫnu aghniyâ’, sanaktubu mâ qâlû wa qatlahumul-ambiyâ’a bighairi ḫaqqiw wa naqûlu dzûqû ‘adzâbal-ḫarîq
Sungguh, Allah benar-benar telah terjadi mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin dan juga kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan merek dan juga pembunuhan terhadap nabi-nabi yang tersebut merekan lakukan tanpa hak (alasan yang tersebut benar). Kami akan mengungkapkan (kepada mereka pada hari Kiamat), “Rasakanlah azab yang membakar!”
ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۚ ١٨٢
dzâlika bimâ qaddamat aidîkum wa annallâha laisa bidhallâmil lil-‘abîd
Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu (sendiri) kemudian sesungguhnya Allah (sama sekali) tiada menzalimi hamba-hamba-Nya.
اَلَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ عَهِدَ اِلَيْنَآ اَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُوْلٍ حَتّٰى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُۗ قُلْ قَدْ جَاۤءَكُمْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِيْ بِالْبَيِّنٰتِ وَبِالَّذِيْ قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوْهُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١٨٣
alladzîna qâlû innallâha ‘ahida ilainâ allâ nu’mina lirasûlin ḫattâ ya’tiyanâ biqurbânin ta’kuluhun-nâr, qul qad jâ’akum rusulum ming qablî bil-bayyinâti wa billadzî qultum fa lima qataltumûhum ing kuntum shâdiqîn
(Mereka adalah) orang-orang (Yahudi) yang tersebut mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah dilakukan memerintahkan untuk kami agar kami tiada beriman terhadap seseorang rasul sebelum beliau mendatangkan terhadap kami kurban yang tersebut dimakan api (yang datang dari langit).” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sungguh, beberapa rasul sebelumku telah lama datang kepadamu dengan (membawa) bukti-bukti yang digunakan nyata lalu menghadirkan apa yang digunakan kamu sebutkan. Akan tetapi, mengapa kamu membunuh mereka jikalau kamu orang-orang yang digunakan benar?”
فَاِنْ كَذَّبُوْكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ جَاۤءُوْ بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتٰبِ الْمُنِيْرِ ١٨٤
fa ing kadzdzabûka fa qad kudzdziba rusulum ming qablika jâ’û bil-bayyinâti waz-zuburi wal-kitâbil-munîr
Maka, apabila mereka mendustakanmu (Nabi Muhammad), sungguh rasul-rasul sebelummu pun sudah didustakan. Mereka datang dengan (membawa) mukjizat-mukjizat yang tersebut nyata, zubur, lalu Alkitab yang memberi penjelasan yang digunakan sempurna.
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ١٨٥
kullu nafsin dzâ’iqatul maût, wa innamâ tuwaffauna ujûrakum yaumal-qiyâmah, fa man zuḫziḫa ‘anin-nâri wa udkhilal-jannata fa qad fâz, wa mal-ḫayâtud-dun-yâ illâ matâ’ul-ghurûr
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang digunakan dijauhkan dari neraka dan juga dimasukkan ke pada surga, sungguh beliau memperoleh kemenangan. Kehidupan bumi hanyalah kesenangan yang tersebut memperdaya.
۞ لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ١٨٦
latublawunna fî amwâlikum wa anfusikum, wa latasma’unna minalladzîna ûtul-kitâba ming qablikum wa minalladzîna asyrakû adzang katsîrâ, wa in tashbirû wa tattaqû fa inna dzâlika min ‘azmil-umûr
Kamu pasti akan diuji pada (urusan) hartamu kemudian dirimu. Kamu pun pasti akan mendengar sejumlah hal yang tersebut sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang tersebut diberi Alkitab sebelum kamu juga dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar lalu bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu satu di antaranya urusan yang mana (patut) diutamakan.
وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهٗ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُوْنَهٗۖ فَنَبَذُوْهُ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ ١٨٧
wa idz akhadzallâhu mîtsâqalladzîna ûtul-kitâba latubayyinunnahû lin-nâsi wa lâ taktumûnahû fa nabadzûhu warâ’a dhuhûrihim wasytarau bihî tsamanang qalîlâ, fa bi’sa mâ yasytarûn
(Ingatlah) saat Allah menciptakan perjanjian dengan orang-orang yang digunakan telah dilakukan diberi Alkitab (dengan berfirman), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkan (isi Alkitab itu) untuk manusia juga janganlah kamu menyembunyikannya.” Lalu, mereka melemparkannya (janji itu) ke belakang punggung mereka (mengabaikannya) dan juga menukarnya dengan harga jual yang tersebut murah. Maka, itulah seburuk-buruk jual beli yang tersebut mereka lakukan.
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٨٨
lâ taḫsabannalladzîna yafraḫûna bimâ ataw wa yuḫibbûna ay yuḫmadû bimâ lam yaf’alû fa lâ taḫsabannahum bimafâzatim minal-‘adzâb, wa lahum ‘adzâbun alîm
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa warga yang gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang tersebut telah lama mereka itu kerjakan dan juga suka dipuji berhadapan dengan perbuatan (yang mereka anggap baik) yang tidaklah mereka itu lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa merek akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang tersebut sangat pedih.
وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌࣖ ١٨٩
wa lillâhi mulkus-samâwâti wal-ardl, wallâhu ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Milik Allahlah kerajaan langit serta bumi. Allah Mahakuasa menghadapi segala sesuatu.
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
inna fî khalqis-samâwâti wal-ardli wakhtilâfil-laili wan-nahâri la’âyâtil li’ulil-albâb
Sesungguhnya di penciptaan langit serta bumi dan juga pergantian di malam hari kemudian siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi warga yang dimaksud berakal,
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
alladzîna yadzkurûnallâha qiyâmaw wa qu’ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis-samâwâti wal-ardl, rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, sub-ḫânaka fa qinâ ‘adzâban-nâr
(yaitu) orang-orang yang tersebut mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau di keadaan berbaring, kemudian memikirkan tentang penciptaan langit serta bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.
رَبَّنَآ اِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ اَخْزَيْتَهٗۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ١٩٢
rabbanâ innaka man tudkhilin-nâra fa qad akhzaitah, wa mâ lidh-dhâlimîna min anshâr
Ya Tuhan kami, sesungguhnya warga yang dimaksud Engkau masukkan ke pada neraka, maka Engkau benar-benar sudah pernah menghinakannya juga tiada ada individu penolong pun bagi pendatang yang digunakan zalim.
رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّاۖ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ ١٩٣
rabbanâ innanâ sami’nâ munâdiyay yunâdî lil-îmâni an âminû birabbikum fa âmannâ rabbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi’âtinâ wa tawaffanâ ma’al-abrâr
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar pemukim yang tersebut menyeru pada keimanan, yaitu ‘Berimanlah kamu terhadap Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, lalu wafatkanlah kami beserta orang-orang yang dimaksud terus-menerus berbuat kebaikan.
رَبَّنَا وَاٰتِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ١٩٤
rabbanâ wa âtinâ mâ wa’attanâ ‘alâ rusulika wa lâ tukhzinâ yaumal-qiyâmah, innaka lâ tukhliful-mî’âd
Ya Tuhan kami, anugerahilah kami apa yang mana sudah Engkau janjikan terhadap kami melalui rasul-rasul-Mu dan juga janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tak pernah mengingkari janji.”
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰىۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۚ فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَاُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُدْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ ثَوَابًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَابِ ١٩٥
fastajâba lahum rabbuhum annî lâ udlî’u ‘amala ‘âmilim mingkum min dzakarin au untsâ, ba’dlukum mim ba’dl, falladzîna hâjarû wa ukhrijû min diyârihim wa ûdzû fî sabîlî wa qâtalû wa qutilû la’ukaffiranna ‘an-hum sayyi’âtihim wa la’udkhilannahum jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâr, tsawâbam min ‘indillâh, wallâhu ‘indahû ḫusnuts-tsawâb
Maka, Tuhan mereka itu memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak ada menyia-nyiakan perbuatan pemukim yang beramal pada antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang tersebut lain. Maka, orang-orang yang tersebut berhijrah, diusir dari kampung halamannya, disakiti pada jalan-Ku, berperang, dan juga terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan merek juga pasti Aku masukkan mereka itu ke pada surga-surga yang digunakan mengalir pada bawahnya sungai-sungai sebagai pahala dari Allah. Di sisi Allahlah ada pahala yang baik.”
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ ١٩٦
lâ yaghurrannaka taqallubulladzîna kafarû fil-bilâd
Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang yang mana kufur pada seluruh negeri.
مَتَاعٌ قَلِيْلٌۗ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ١٩٧
matâ’ung qalîl, tsumma ma’wâhum jahannam, wa bi’sal-mihâd
(Semua itu hanyalah) kesenangan sementara, kemudian tempat kembali merekan ialah (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.
لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا نُزُلًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَبْرَارِ ١٩٨
lâkinilladzînattaqau rabbahum lahum jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ nuzulam min ‘indillâh, wa mâ ‘indallâhi khairul lil-abrâr
Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa untuk Tuhannya, merekan akan mendapat surga-surga yang tersebut mengalir dalam bawahnya sungai-sungai serta dia kekal pada dalamnya sebagai karunia dari Allah. Apa yang dimaksud ke sisi Allah itu tambahan baik bagi orang-orang yang digunakan setiap saat berbuat baik.
وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩٩
wa inna min ahlil-kitâbi lamay yu’minu billâhi wa mâ unzila ilaikum wa mâ unzila ilaihim khâsyi’îna lillâhi lâ yasytarûna bi’âyâtillâhi tsamanang qalîlâ, ulâ’ika lahum ajruhum ‘inda rabbihim, innallâha sarî’ul-ḫisâb
Sesungguhnya pada antara Ahlulkitab ada yang mana beriman terhadap Allah juga pada apa yang digunakan diturunkan terhadap kamu lalu yang digunakan diturunkan terhadap mereka. Mereka berendah hati untuk Allah juga tidak ada menukarkan ayat-ayat Allah dengan biaya murah. Mereka itu memperoleh pahala pada sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَࣖ ٢٠٠
yâ ayyuhalladzîna âmanushbirû wa shâbirû wa râbithû, wattaqullâha la’allakum tufliḫûn
Wahai orang-orang yang digunakan beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di dalam perbatasan (negerimu), serta bertakwalah terhadap Allah agar kamu beruntung.
Artikel ini disadur dari Surat Ali Imran Full: Arab, Latin dan Terjemahannya






